The Science of Optimism

by tjok

Kita seringkali melihat diri kita sebagai makhluk yang rasional. Kita menganggap setiap keputusan atau tindakan yang kita ambil adalah produk kognisi yang logis.

Majalah Time edisi Juni 2011 mengeluarkan artikel menarik tentang bagaimana manusia cenderung untuk bersikap optimis daripada pesimis. Kita (manusia) cenderung mengharapkan sesuatu yang baik daripada yang buruk. Apa ada orang yang mengharapkan untuk kehilangan pekerjaannya atau tidak lulus ujian? Pastinya tidak ada, bukan?

Pernahkah kita bertanya kenapa manusia memiliki kecenderungan berpikir optimis? Mungkin selama ini, kita menerima hal ini sebagai suatu hal yang taken for granted saja. Nah, salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab dari misteri tersebut.

Untuk dapat berpikir positif, kita harus mampu membayangkan diri kita di masa depan. Hal ini berarti optimisme dimulai dari kemampuan yang paling luar biasa dari manusia yaitu mental time travel, kemampuan untuk berpindah waktu dan tempat di dalam pikiran kita.

Kemampuan untuk ’menjelajah’ dimensi waktu dan tempat yang berbeda ini sangat kritikal dalam menentukan keberlangsungan hidup manusia. Mengapa begitu? Karena dengan kemampuan ini, kita dapat melakukan perencanaan untuk masa depan kita. Contohnya,  kita menyimpan bahan makanan saat panen untuk mencegah kelaparan pada waktu musim dingin. Contoh lainnya, saat ini isu global warming menjadi isu yang ’hangat’ karena kita memikirkan dampak perubahan iklim terhadap kelangsungan hidup anak cucu kita di masa depan.

Kepentingan untuk bertahan hidup (survival) inilah yang kemudian mempengaruhi evolusi di dalam cara kerja otak manusia, sehingga secara tidak sadar, kita memiliki kecenderungan untuk bersikap optimis. (Buat yang ingin tahu lebih detail mengenai aktivitas apa yang terjadi dalam bagian-bagian otak manusia seperti hippocampus atau amygdala di dalam proses ini, bisa membaca majalah Time edisi 6 Juni 2011).

Bagian yang paling menarik dari penelitian ini sendiri bukan penjelasan asal usul sikap optimis manusia. Melainkan pembahasan mengenai kapan optimisme ini dapat menjadi sesuatu yang bias (optimism bias), dan bagaimana caranya untuk mengatasi bias ini.

Optimisme dapat menjadi sesuatu yang bias pada saat kita tidak dengan betul-betul objektif dan realistis menilai suatu situasi atau kondisi. Karena terlampau optimis, kita jadi mengabaikan kemungkinan yang terburuk. Yang berujung pada kegagalan kita melakukan perencanaan yang cukup untuk memastikan hal yang kita kerjakan dapat berhasil. Oleh karena itu, supaya terhindar dari bias semacam ini, kita harus menyadari bahwa optimisme dapat bersifat irasional dan menyebabkan kita mendapatkan hasil yang tidak diinginkan. Dengan memahami hal ini, kita dapat memeriksa apakah ada bias dalam optimisme kita, sekaligus menilai situasi dan kondisi yang ada dengan lebih objektif dan realistis.

Hal ini alasannya kenapa kita harus selalu ”hope for the best, prepare for the worst”.

Tembagapura, 26 Juli 2011.