LV

by tjok

Salah satu rutinitas baru yang bertambah sejak saya bekerja di perusahaan tambang adalah aktivitas mencuci LV (Light Vehicle) setiap sore sepulangnya dari area tambang. Kondisi tambang yang berdebu dan berlumpur membuat ‘si putih’ harus rutin dimandikan (hampir semua mobil operasional di sini berwarna putih).

 

Hal ini sudah menjadi bagian dari peraturan perusahaan untuk setiap pemakai mobil perusahaan wajib merawat dan menjaga kebersihan mobil sehabis digunakan. Kadang kami tergoda juga untuk melewatkan ‘ritual’ mencuci mobil ini, biasanya karena masih ada pekerjaan yang harus kami kerjakan di kantor. Atau lebih sering lagi karena malas! Karena melihat mobil yang tidak terlalu kotor, kami berpikir tidak masalah untuk sesekali melewatkan ‘ritual’ ini.

 

Sekali dua kali kami melewatkan ‘ritual’ ini, kami merasa tidak ada masalah. Namun, setelah beberapa lama, kami baru menyadari ternyata kemalasan kami berdampak pada berubahnya warna ’si putih’. ’Si putih’ pelan-pelan berubah warnanya jadi agak kekuning-kuningan. Selain itu, mulai muncul karat-karat dan kotoran yang sulit untuk dibersihkan. Memang debu dan kotoran dari tambang lebih ’jahat’ karena mengandung logam. Akumulasi dari kotoran-kotoran yang tidak dibersihkan ini telah pelan-pelan merusak mobil kami (Eh mobil perusahaan maksudnya…Hahaha).

 

Kita mungkin bisa menganalogikan kebiasaan mencuci mobil ini dengan perawatan ’mesin’ rohani kita, khususnya dalam hal inspeksi kesehatan rohani diri kita. Seperti halnya mobil, kehidupan rohani kita pun perlu mendapatkan perawatan, perlu untuk ’dirawat’ dan ’dibersihkan’ dari noda-noda dan ’kotoran-kotoran’. Namun terkadang, kalau mau jujur, kita pun sering malas untuk melakukan hal ini. Kita sering malas untuk berdoa, membaca Alkitab dan datang beribadah.

 

Kita merasa tidak akan jadi masalah kalau satu dua hari melewatkan waktu saat teduh kita. Kita merasa baik-baik saja tidak datang kebaktian satu atau dua minggu. Seperti performa mobil yang mulai tidak beres, kita baru menyadari adanya yang tidak beres dengan ’mesin’ rohani kita saat masalah-masalah mulai muncul.

 

Salah satu tokoh besar dalam Alkitab yag menganggap penting akan interopeksi diri adalah Raja Daud. Raja Daud memohon kepada Tuhan untuk menguji dirinya, untuk menyelidiki batin dan hatinya, untuk mengenal pikiran-pikirannya (Mzm 26:2, 139:23-24). Kenapa Raja Daud berani berkata seperti itu? Karena selama ini Raja Daud telah rajin menginteropeksi dirinya sehingga dia bisa yakin kalau dirinya sudah hidup benar dan berkenan di hadapan Tuhan.

 

Pada waktu mencuci mobil, kami sering hanya berfokus untuk membersihkan bagian-bagian mobil yang terlihat dan mudah untuk dibersihkan. Bagian yang sulit dibersihkan dan dijangkau seperti kolong mobil biasanya jarang diberi perhatian. Akibatnya bisa ditebak. Kotoran-kotoran yang tidak terlihat ini  jadi mengendap dengan tebalnya dan semakin sulit untuk dibersihkan, yang akhirnya mengganggu performa kendaraan.

 

Untuk bisa menginteropeksi diri sendiri, bukanlah suatu hal yang mudah. Butuh suatu kerendahan hati untuk mengakuinya dan komitmen untuk berubah. Dan seringkali ada ’blind spot’ yang menghalangi diri kita untuk menilai secara objektif kondisi diri kita. ’Blind spot’ ini bisa karena dosa yang sudah melekat terlalu lama sehingga tidak dilihat sebagai dosa lagi. Bisa juga karena ego dan kesombongan kita.

 

Ingat doa orang Farisi dan pemungut cukai? Orang Farisi dalam doanya membanggakan semua aktivitas rohani yang telah dilakukannya, sedangkan si pemungut cukai berdoa dengan tidak berani membenarkan diri, hanya menangis dan memukul diri. Dan kita siapa yang akhirnya dibenarkan di antara kedua orang itu. Orang Farisi ini tidak bisa melihat dengan jelas kondisi rohaninya. Ada ’blind spot’ yang telah membutakan ’mata rohani’ nya.

 

Tuhan Yesus sendiri pernah menegur dengan keras orang-orang Farisi karena perilaku munafik mereka. Mereka disamakan dengan sebuah kuburan yang dari tampak luar berwarna putih bersih tapi sesungguhnya di dalamnya penuh dengan tulang belulang dan kebusukan. Jangan sampai kita pun ditegur karena hal ini! Jangan sampai kita hanya ahli dalam melihat selumbar di mata saudara kita tapi tidak mampu melihat balok di mata kita sendiri.

 

Sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan ’alat’ untuk kita bisa memeriksa ’mesin’ rohani kita yaitu Firman-Nya. Alkitab dapat mengajarkan kepada kita jalan yang benar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran (2 Tim 3:16). Sekarang tinggal apakah kita mau menggunakannya atau tidak. Apakah kita mau mengalahkan rasa malas kita untuk mulai membangun suatu disiplin rohani seperti meluangkan waktu setiap hari untuk saat teduh, berdoa, dsb. Sehingga kita dapat seperti Raja Daud dengan yakin berkata, ”Ujilah aku, ya TUHAN”.