The Secret Millionaire

by tjok

Beberapa hari yang lalu, saat sedang nge-gym, saya sempat menonton tayangan reality show di BBC Knowledge. Nama acara yang saya tonton waktu itu adalah ’The Secret Millionaire’. Konsep acara ini mirip dengan acara ’reality show’ (saya tidak yakin ada acara televisi yang tanpa rekayasa, biar pun sudah ada label ’reality show-’nya) di salah satu statiun tv nasional (nama acaranya ’Tangan di Atas’ atau apa saya tidak terlalu ingat).

 

Kedua acara ini sama-sama menceritakan tentang seseorang yang berusaha untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Bedanya kalau di ’The Secret Millionaire’, subjek pelakunya adalah seorang jutawan yang menyamar menjadi orang biasa (bahkan dibuat terkesan lusuh dan kumal) untuk mencari orang untuk ditolongnya.

 

Pada episode yang saya tonton, jutawan yang menyamar adalah Hillary Devey. Dalam acara ini, Hillary akan menyamar selama 10 hari sebagai seorang pendatang yang sedang mencari pekerjaan di sebuah kota kecil.

 

Pencarian Hillary untuk mendapatkan pekerjaan dan menemukan orang untuk ditolongnya ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan. Dalam tayangan ini, digambarkan bagaimana Hillary beberapa kali mendapatkan penolakan pada saat melamar pekerjaan di tempat yang didatanginya.

 

Setelah berkeliling kota selama beberapa hari, Hillary akhirnya bertemu dengan Sheila. Sheila adalah pendiri dan pemilik suatu yayasan yang berfokus untuk melayani para manula. Yayasan milik Sheila rutin mengadakan berbagai kegiatan seperti acara makan siang bersama dengan gratis. Walaupun pernah terkena stroke sebanyak dua kali, hal tersebut tidak menghalangi Sheila untuk dengan tekun mengelola lembaga ini dengan mengandalkan dana sumbangan dari para donator.

 

Hillary pun kemudian diterima untuk bekerja di yayasan ini. Hillary menggunakan kesempatan ini untuk lebih mengenal pribadi Sheila sekaligus memastikan apakah semua cerita yang disampaikan Sheila adalah benar adanya. Hillary harus benar-benar merasa yakin kalau orang yang ditolongnya betul-betul memerlukan pertolongannya. Hillary mengaku dirinya sudah beberapa kali ditipu oleh orang yang pura-pura miskin dan susah demi mendapatkan uangnya.

 

Selain berkenalan dengan Sheila, Hillary pun sempat berkenalan dengan Carol. Carol adalah penggagas proyek musik untuk remaja. Carol memfasilitasi para remaja yang memiliki minat di bidang musik untuk mengerjakan proyek musik mereka. Kota tempat Sheila dan Carol tinggal adalah kota dengan tingkat kriminalitas yang cukup tinggi. Banyak anak dan remaja yang kemudian tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka. Keberadaan lembaga seperti milik Carol ini sangat diperlukan untuk membantu menyediakan alternatif kegiatan positif bagi anak-anak di kota itu.

 

Perlu diingat sampai dengan titik ini, baik Sheila maupun Carol sama-sama tidak mengetahui identitas asli dari Hillary. Yang mereka tahu, Hillary hanyalah seorang wanita setengah baya yang datang ke kota mereka untuk mencari pekerjaan.

 

Setelah lewat 10 hari bekerja di kedua lembaga itu, akhirnya Hillary membuka identitas aslinya kepada Sheila dan Carol. Mereka berdua sungguh terkejut saat melihat Hillary datang menemui mereka dengan penampilan yang sangat mewah. Mereka makin terkejut lagi ketika mengetahui bahwa orang yang mereka perkerjakan ternyata adalah salah seorang pengusaha perempuan tersukses di Inggris. Mereka juga sangat terharu ketika Hillary mendonasikan uangnya sampai puluhan ribu pound yang akan digunakan untuk menunjang kegiatan operasional lembaga yang mereka asuh.

 

Coba bayangkan bagaimana reaksi orang-orang yang tadinya telah menolak memberikan pekerjaan kepada Hillary. Mereka pasti merasa menyesal karena tidak bersikap ramah kepada Hillary.

 

Memang tidak bisa dibohongin, kalau sikap kita dalam berinteraksi dengan orang lain seringkali ada sifat bunglonnya. Maksudnya, tingkat keramahan kita kepada seseorang biasanya akan berbanding lurus dengan tinggi rendahnya atribut yang melekat pada orang itu.

 

Contohnya, terhadap teman kita yang ”biasa-biasa” saja, kita bersikap juga ”biasa-biasa” saja. Tapi terhadap teman atau orang yang kita tahu memiliki banyak kelebihan (bisa lebih harta, lebih pintar, lebih menarik), sikap kita pun berubah dari yang ”biasa-biasa” saja menjadi ”agak tidak biasa”.

 

Sifat bunglon ini bisa muncul karena di dalam pikiran kita, sadar tidak sadar, kita memikirkan transaksi untung-rugi seperti orang berdagang. Apa untungnya kalau saya mau repot-repot bersikap baik kepada orang itu? Apa yang saya bisa dapat kalau saya berteman dengan dirinya?

 

Karena kita berpikir tidak ada yang bisa kita dapatkan dari si ”miskin”, buat apa toh kita bersikap baik? Seperti orang-orang yang menolak memberi pekerjaan Hillary, mereka telah melakukan kalkulasi dalam pikiran mereka: untung ruginya jika memberi pekerjaan kepada Hillary. Dan sayangnya, dari hitung-hitungan mereka, mereka tidak melihat akan mendapatkan untung dari membantu wanita setengah baya yang tampak bodoh dan tidak berkemampuan.  

 

Sifat bunglon ini bisa menjangkit siapa saja. Bahkan seorang pelayan rohani pun, kalau tidak hati-hati, bisa terjangkit sifat bunglon ini. Apabila umat yang dilayaninya ”kaya raya”, sikap dan tutur katanya pun menjadi penuh kasih mesra. Tapi giliran ada umat yang ”belum kaya harta, tapi kaya hati”, sikapnya jadi berubah 180 derajat. Pelayanan kepada si umat pun jadi ala kadarnya.

 

Saya terkesan dengan salah satu nas yang mengungkapkan suatu ”rahasia” dimana terkadang malaikat-malaikat suka menyamar menjadi orang-orang yang di mata manusia mungkin kecil, rendah dan tak berarti. Malaikat-malaikat ini seyogyanya hendak menguji derajat kasih seseorang apakah kasihnya tidak melihat rupa dan tulus.

 

Coba mulai hari ini, kita belajar berpikir bahwa setiap orang adalah malaikat-malaikat yang menyamar. Dengan memiliki pikiran seperti ini, niscaya kita tidak lagi akan berpikir ”untung-rugi” saat berinteraksi dengan sesama kita.

 

Kita akan melihat setiap orang dengan cara yang baru dan berbeda. Kita pasti akan berusaha memberikan yang terbaik: perkataan yang terbaik, perhatian yang terbaik, pemberian yang terbaik. Dan, pasti akan ada juga berkat terbaik yang bisa kita peroleh. So, ayo kita buka mata lebar-lebar mata rohani kita, siapa tahu saat ini ada ”malaikat-malaikat” di sekeliling kita!