When Bad Things Happened to Good People

by tjok

Pagi ini, saat ingin pergi kerja seperti biasanya, kami mengalami kejadian yang tidak kami duga. Saat  baru seperempat perjalanan, tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari mobil yang kami naiki. Ketika mendengar suara itu, kami memutuskan untuk menepikan kendaraan untuk melihat apa yang terjadi. Kami menduga suara itu berasal dari ban belakang kanan mobil kami. Dan ternyata betul, ban belakang kanan kami sepertinya melindas benda tajam yang menyebabkan permukaan kulitnya terkoyak sangat dalam. Ban mobil kami kempes seketika.

 

Akhirnya pagi tadi, kami harus berolahraga pagi untuk mengganti ban mobil ini. Kami cukup menghabiskan banyak waktu untuk mengganti ban itu karena kami tidak membawa sambungan dongkrak di mobil kami. Kami harus menunggu cukup lama sampai ada mobil yang berbaik hati mau berhenti dan meminjamkan sambungan dongkraknya kepada kami.

 

Tapi ternyata dongkrak yang kami punya pun masih belum cukup untuk mengangkat mobil. Sampai akhirnya teman kami datang untuk membawakan dongkrak tambahan. Yang berkesan dari peristiwa pagi tadi adalah ucapan salah seorang teman yang mengatakan kadang peristiwa yang tidak enak seperti pagi ini mungkin bisa jadi dapat menghindarkan kita dari peristiwa yang lebih tidak mengenakan. Teman saya memberi contoh seperti pada waktu peristiwa 9/11, ada orang yang sehari-hari tidak pernah terlambat tiba di kantor. Tapi di hari itu, sepertinya ada hal-hal yang ’menghalanginya’ untuk ke kantor. Dan, ternyata hal-hal inilah yang kemudian menghindarkan dirinya dari kematian.

 

Saya jadi teringat dengan sebuah buku (yang entah pernah saya baca atau tidak. Saya tidak hapal buku mana saja yang pernah saya baca :p ) yang berjudul ”When Bad Things Happened to Good People”. Karena saya tidak ingat pernah baca buku ini atau tidak, maka saya juga tidak ingat akan isi buku ini. (Hahaha…:p)

 

Tapi kurang lebih dari judulnya, kita bisa tebak isi bukunya. Yup, sebagian besar dari kita mungkin pernah (dan sering) bertanya (atau tepatnya mempertanyakan) kenapa orang yang baik bisa saja mengalami suatu kesialan. Bukannya kita diajarkan kalau kita berbuat baik, tidak pernah menyakiti orang lain, dsb, kita akan memperoleh yang baik. Bukannya apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Tapi kenyataan kadang berkata lain. Kita banyak juga melihat orang lain atau diri kita mengalami sendiri pengalaman yang tidak mengenakkan. Padahal kita sudah rajin beribadah, berdoa, dsb.

 

Tidak sedikit orang yang kemudian menjadi kecewa dan bersungut-sungut kepada Tuhan karena hal ini. Yang awalnya rajin beribadah dan berdoa, akhirnya pelan-pelan mundur. Bahkan mungkin ada lagi yang lebih ekstrem sampai berani menyalahkan Tuhan, bahkan mengancam! (Jadi ingat film Doa yang Mengancam..Hahaha). Saya pikir saya pribadi pernah juga ada di posisi ini (tapi tidak sampai mengancam, takut kualat, paling ngeluh dalam hati…Hahaha). So, apa hal ini berarti Tuhan sudah tidak bersikap adil kepada kita? Apa Tuhan membohongi kita? (simpan dulu jawaban kita, kawan J ).

 

Kata orang hidup setiap kita ini bisa diibaratkan sebagai sebuah film. Kadang ada adegan sedih, lucu, marah, dsb. Film yang menarik (bagi saya) adalah film yang mengambil tema perjuangan orang-orang yang tadinya adalah ’nobody’ menjadi ’somebody’. Salah satu film favorit saya adalah Forrest Gump. Saya yakin banyak  dari kita yang sudah pernah menonton film ini. Film klasik yang dibintangi oleh Tom Hanks ini meceritakan perjuangan Forrest dan ibunya untuk dapat hidup ’normal’. Ceritanya sendiri cukup mengharukan. Dari film ini, kita bisa melihat bagaimana Forrest bertahan menghadapi segala ’cobaan’, ’hinaan’ yang menimpa dirinya. Dan akhirnya, kita tahu, Forrest pun dapat mencapai kesuksesan: menjadi pengusaha sukses, menikah dengan orang yang dicintainya, dsb.

 

Contoh lainnya, ada seorang pemuda yang bernama Yusuf. Yusuf sangat dikasihi oleh ayahnya. Namun, Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya. Mereka iri karena ayah mereka lebih mengasihi adik bungsu mereka. Sampai akhirnya suatu waktu Yusuf dibuang ke dalam sumur dan kemudian dijual menjadi budak di Mesir. Ini kesusahan pertama Yusuf.

 

Di Mesir, Yusuf bekerja pada seorang pembesar bernama Potifar. Yusuf bekerja dengan sangat baik, dan tuannya pun senang akan hasil kerjanya. Yusuf pun mendapatkan kepercayaan yang besar dari tuannya untuk mengelola rumah tangga. Yusuf mungkin berpikir kehidupannya telah menjadi lebih baik. Namun, ternyata tidak seperti itu. Karena menolak untuk godaan Tante Po, Yusuf akhirnya difitnah dan dipenjara. Kita semua setuju, apa yang dilakukan Yusuf dengan menolak godaan dari Tante Po adalah suatu hal yang benar. Tapi apa yang dia dapat? Masuk ke dalam penjara. Sampai di sini, banyak dari kita yang mungkin penasaran akan nasib pemuda ini.

 

Sekarang Yusuf telah berada di atas setting panggung penjara yang gelap. Yusuf melayani para tawanan lain dalam penjara dengan sangat baik. Kepala pengawal penjara pun menjadikannya sebagai orang kepercayaan. Di dalam penjara ini, Yusuf bertemu dengan juru roti dan juru anggur Firaun. Mereka dipenjara karena telah melakukan suatu kesalahan. Suatu malam, mereka berdua mimpi suatu hal yang tidak mereka mengerti. Mereka menceritakan mimpi mereka kepada Yusuf, dan ternyata Yusuf, dengan hikmat dari Tuhan, mampu untuk mengartikan kedua mimpi itu. Dan di kemudian hari terbukti, tafsiran mimpi Yusuf tepat. Yusuf sempat berpesan supaya dirinya diingat dan dibebaskan dari penjara karena dia tidak melakukan suatu kejahatan apapun. Yusuf berpikir kali ini dia akan mendapatkan suatu kelegaan. Tapi ternyata tidak. Yusuf dilupakan dalam penjara sampai bertahun-tahun kemudian.

 

Sampai suatu malam, Firaun bermimpi. Firaun memanggil semua ahli tafsir terbaik di Mesir, tapi tidak ada satu pun yang mampu untuk mengartikan mimpi tersebut. Baru pada waktu itu juru anggur yang diartikan mimpinya ingat kepada Yusuf. Juru anggur itu akhirnya merekomendasikan Yusuf kepada Firaun. Singkat cerita, Yusuf, dengan hikmat dari Tuhan, mampu untuk mengartikan mimpi Firaun. Seperti seorang konsultan bisnis yang hebat, Yusuf memberikan nasehatnya kepada Firaun. Firaun sangat terkesan dengan hikmat yang dimiliki oleh Yusuf dan Yusuf pun diangkat menjadi seorang pamong praja, seorang dengan kekuasaan nomor 2 selain Firaun! Bayangkan dari seorang budak, tawanan menjadi seorang penguasa di negara yang sangat berpengaruh waktu itu!

 

Dan, sebagian dari kita mungkin sudah tahu kelanjutan ceritanya, dimana pada waktu itu di seluruh negeri terjadi kelaparan dan hanya di Mesir saja ada makanan. Yusuf juga akhirnya reuni dengan keluarganya dan ada satu ucapan dari Yusuf terhadap saudara-saudaranya yang dulu telah mencelakakan dirinya, yang saya ingat dan berkesan, yaitu ”kalian telah mereka-rekakan perkara yang buruk untuk diriku, tapi Tuhan telah mereka-rekakannya menjadi kebaikan.” Tepat sekali ucapan Yusuf ini, coba pada waktu itu saudara-saudaranya tidak menjual dirinya, mungkin dia tidak akan menjadi penguasa di Mesir, dan lebih lagi cikal bakal bangsa Ibrani pun mungkin tidak akan pernah ada karena sudah punah karena kelaparan.

 

Di sini, kita bisa belajar satu hal yaitu seperti sebuah film, kita hanya mengerti adegan yang sudah lewat dan kita jalani, adegan-adegan ke depannya, tidak kita ketahui. Tapi, ada sang Sutradara di atas sana yang tahu ’big picture’ dari perjalanan hidup kita. Dan yang lebih melegakan lagi adalah Dia akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi diri-Nya. Yup, seperti kata peribahasa Jawa, Gusti Allah ora sare…(Tuhan tidak pernah tidur).

 

Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi penghiburan buat kita semua, khususnya buat mereka yang saat ini sedang berbeban berat dan bertanya-tanya dalam hatinya apakah Tuhan itu sungguh ada dan peduli.

 

Ditulis pada 16 November 2009, di SQ216, Tembagapura, Papua. Tembagapura masih hujan setiap hari tapi setelah hujan pasti ada pelangi di angkasa J