Usain Bolt, Ronaldinho, Susi Susanti

by tjok

Usain Bolt, sprinter asal Jamaika, baru saja berhasil memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri di Kejuaraan Dunia Atletik di Berlin. Dia berhasil menajamkan rekor yang dibuatnya saat Olimpiade Beijing untuk lari 100 meter, dari 9,69 detik menjadi 9,58 detik. Selain itu, Bolt juta sukses memecahkan rekor di nomor 200 meter.

“Why do Jamaicans run so fast?” adalah judul film dokumenter yang sedang dibuat untuk menyelediki kenapa pelari asal Jamaika begitu menonjol di olahraga ini. Padahal dibandingkan dengan negara lain yang lebih besar seperti AS, Jamaika hanyalah negara kecil.

Ternyata salah satu jawaban terbesarnya adalah kompetisi di sekolah. Banyak anak di Jamaika yang harus berjalan jauh untuk berlatih dan bertanding di kompetisi antarsekolah. Kondisi ini yang kemudian berkontribusi melahirkan sprinter dunia macam Bolt, Asafa Powell, Ben Johnson, dsb.

Ronaldinho Gaucho, seperti kebanyakan anak kecil di Brasil, mengejar mimpinya untuk menjadi pesepakbola profesional. Memang bagi masyarakat Brasil, sepola sudah mendarah daging di dalam kehidupan mereka. Selain itu, sepabola adalah alat untuk mendapatkankesuksean, alat untuk lepas dari jerat kemiskinan. Maka tidak heran kalau kebanyakan pesepakbola top dari Brasil ini berasal dari kalangan menengah bawah, kecuali Kaka yang berasal dari kalangan menengah atas.

Apa yang menyebabkan orang Brasil begitu piawai memainkan si bola bundar? Apa mereka dikaruniai gen jenius sebagai pesepakbola andal seperti sang legenda Pele? Atau mereka memilki anatomi tubuh yang spesifik? Atau karena merka biasa menari Samba sehingga membantu mereka ‘menari’ di lapangan?

Medali emas pertama Indonesia di Olimpiade didapatkan dari cabang bulu tangkis. Di Olimpiade Barcelona, Susi Susanti berhasil menumbangkan lawannya dari Korea, Bang Soo-Hyun di final. Dan dua jam kemudian, tunangannya Alan Budi Kusuma berhasil meraih medali emas di tunggal putra.

Perjuangan Susi untuk menjadi juara olimpiade, kita tahu bersama, tidaklah mudah. Susi telah mengorbankan sebagian besar hidupnya dengan berlatih, berlatih dan berlatih. Dan hal ini dilakukannya dengan penuh disiplin dan konsistensi sejak usia yang masih sangat muda.

Apa yang bisa kita petik dari 3 cerita di atas? Walaupun kita bukanlah seorang olahragawan, tapi ada nilai positif yang bisa kita ambil yang pastinya akan berguna di dalam kehidupan kita.

Dari cerita mengenai Bolt, kita belajar pentingnya kompetisi. Kompetisi yang sehat sesungguhnya sangat penting untuk mengasah diri kita. Kompetisi akan memacu diri kita untuk menjadi lebih baik. Salah satu alasan saya memilih kuliah di Teknik Industri UI adalah karena saya tahu di tempat ini ada banyak orang yang lebih pintar dari saya. Karena itu, saya selalu terpacu untuk menjadi lebih baik lagi.

Dari cerita Ronaldinho, kita bisa lihat kadang kesusahan itu bisa jadi motivasi terbaik untuk kita maju. Saya pernah lihat sebuah buku mengenai kewirausahaan yang berjudul “The Power of Kepepet”. Kadang justru kesusahan (baca:kepepet) itu bisa berdampak baik untuk kita. Di Business Week, diceritakan ada seorang wanita yang membuka usaha (dan usahanya sukses) setelah sebelumnya dirinya dipecat oleh perusahaannya (karena dampak krisis global).

Dari cerita Susi Susanti, kita bisa belajar kalau tidak ada yang namanya kesuksesan instan. Harus ada proses jatuh bangun sebelumnya. Harus ada ‘harga’ yang dibayar untuk kesuksesan itu. Sayangnya kita di hidup di masa dimana serba instan. Semua orang mau sukses tapi maunya instan, belum lagi tidak mau bayar ‘harga’. Kita, sebagai generasi milenia, dianggap tidak se-tough orang tua kita, kita ‘lembek’. Hal ini yang harus mulai kita ubah: belajar untuk lebih disiplin, konsisten (di Koran Sindo kemarin, kutipannya kalau tidak salah, ‘orang yang sukses adalah orang yang menyelesaikan apa yang dimulainya), kerja keras dan nilai-nilai lainnya yang sebenarnya sudah kita tahu, tapi belum dilakukan!