Stand Up, Speak Up

by tjok

Kasus 1
VOC yang notabene adalah sebuah konglomerasi Belanda berhasil mengeruk keuntungan di Nusantara selama kurang lebih tiga setengah abad. Dari pelajaran Sejarah yang kita pelajari waktu sekolah, kita tahu kunci keberhasilan VOC sehingga mampu menancapkan kukunya begitu lama adalah politik adu domba atau dikenal juga dengan Devide et Impera. VOC berhasil memecah belah raja-raja di Nusantara sehingga tidak bersatu melawannya.

Kasus 2
Dalam sebuah poling yang dilakukan majalah remaja pria Hai beberapa waktu lalu, ditanyakan kepada responden yang adalah siswa SMA, apa kriteria yang mereka gunakan untuk memilih presiden? Hasilnya yang mengejutkan adalah mereka akan memilih presiden yang: keren (ini pemilihan presiden bos bukan idol..haha), memiliki pergaulan internasional yang luas (oke ini lebih mending dari yang pertama, tapi darimana bisa tahu? Dari jumlah friends di Facebook si capres?), dan alasan-alasan lainnya yang aneh bin ajaib seperti ikut-ikutan teman dan keluarga. Mungkin tidak sedikit dari kita yang seperti responden dalam poling tersebut pada waktu nyontreng pilpres kemarin. Pilih capres A karena gagah dan jago nyanyi serta bikin lagu (ini pasti pilhan ibu-ibu ^^), pilih capres B karena sama-sama dari kampung yang sama (dengan premis kalo capres ini terpilih, pasti kampungnya akan ikut makmur juga), atau pilih capres C karena katanya pembela wong cilik, dsb.

Kasus 3
Industri musik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak band-band atau penyanyi baru bermunculan, sebut saja yang cukup fenomenal yaitu almarhum Mbah Surip dengan lagu ”Tak Gendong” nya. Saya sendiri bingung dengan kesuksesan Mbah Surip ini. Dari segi lagu dan lain-lain biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Apa kesuksesannya dikarenakan strategi marketing yang jitu? Bisa jadi. Saya pikir tim marketing Mbah Surip mampu menciptakan buzz di masyarakat. Terlepas dari enak atau tidak lagunya, orang-orang jadi membicarakan keunikan Mbah Surip dan di sini peran media sangat kuat. Selain itu, saya melihat kesuksesan Mbah Surip juga dikarenakan karakteristik masyarakat kita yang mudah terpengaruh dengan pilihan orang banyak. Artinya, awalnya kita merasa lagu Mbah Surip tidak enak dan aneh, tapi karena banyak orang yang ‘suka’ dan sering membicarakannya, kita jadi ikut-ikutan ‘suka’.

Contoh lain adalah Kangen Band. Saya merasa lagu-lagu band ini cukup enak didengar tapi saya bingung kenapa banyak orang yang ‘menghujat’ band ini sebagai ‘band sampah’. Saya menduga sebenarnya banyak orang juga yang sebenarnya hanya ikut-ikutan tidak menyukai lagu-lagu band ini karena malu dianggap memiliki selera musik yang ‘rendah’.

Kasus 4
Seminggu terakhir ini, saya melihat banyak orang yang tiba-tiba menjadi ’heroik’ dengan ’menghujat’ negara tetangga yang dianggap sudah mencuri budaya bangsa kita. Mereka menunjukkan rasa nasionalisme mereka dengan memasang status ’perjuangan’ di Facebook atau Twitter.

Pertanyaannya adalah apakah orang-orang itu benar-benar peduli dengan budaya mereka sendiri? Apa mereka suka pakai batik (sebelum sepopuler sekarang)? Apa mereka menyempatkan diri untuk nonton tarian pendet saat liburan ke Bali? Atau Reog Ponorogo saat liburan ke Ponorogo? Tanpa bermaksud untuk menuduh mereka memasang status itu hanya biar ikutan eksis, saya pikir mereka semua cinta produk dan budaya Indonesia (hahahaha…LOL).

Kasus 5
Semua bule yang datang ke Jakarta dibuat terheran-heran waktu keliling kota ini, apalagi kalau diajak ke mall seperti Grand Indonesia atau Pacific Place. Mereka heran karena yang mereka tahu negara kita itu negara dengan banyak utang. Walaupun ’miskin’, ternyata kalau dalam urusan barang-barang mewah, orang kita tidak ketinggalan. Bahkan, kalau tidak salah, produsen smart phone dunia sengaja memilih Jakarta sebagai tempat launching pertama produknya di seluruh dunia. Luar biasa!!

Sekarang tidak aneh kalau kita lihat orang-orang yang menenteng blackberry atau iphone. Dan bisa ditebak, lebih kebanyakan pemilik gadget ini membeli bukan karena membutuhkan fungsinya tapi biar kelihatan trendi!! Dari sekian banyak fitur yang ada, yang dipakai cuman BBM atau Facebook…Hahaha…

Dari kelima kasus di atas, apa yang ingin saya coba bagikan? Dari kelima kasus di atas, kita dapat melihat salah satu karakteristik masyarakat kita (ini pendapat pribadi, bukan seorang antropolog…^^) yaitu mudah untuk dipengaruhi oleh opini publik.

Boleh setuju atau tidak dengan pendapat ini. Dalam salah satu wawancaranya, Sri Mulyani juga pernah mengungkapkan pendapat yang kurang lebih sama. Dia berpendapat masyarakat kita sebetulnya mudah dimotivasi (baca: dipengaruhi), mudah tersentuh, tapi kurang dapat bertahan (baca: persistence) dalam mengerjakan sesuatu.

Kenapa bisa begitu? Ada banyak sebab. Pertama, bisa jadi karena tidak mau terlihat berbeda dengan orang lain. Contohnya adalah kalau teman-teman kerja kita biasa pulang tenggo, kita juga ikutan karena takut dicap ’cari muka’. Saya gak tahu apa hal ini ada hubungannya dengan sistem demokrasi yang dianut bangsa ini dimana majority wins (jadi biar gak jadi pihak yang ’kalah’ mendingan ikut suara mayoritas).

Kedua, untuk menghindari konflik. Dalam rapat atau kesempatan diskusi baik di kampus maupun di tempat kerja, kita seringkali menjumpai banyak ’Yes Man’. Kalau ditanya pendapatnya, selalu bilangnya pendapat anda lebih baik, kita jalani pendapat anda. Beda dengan orang bule atau India, yang biasanya kekeuh sama pendapatnya (walaupun salah..haha).

Ketiga, sistem pendidikan kita tidak mengakomodasi para siswanya untuk berpikir kreatif (baca: beda). Kalau disuruh gambar pemandangan, harus ada dua gunung, sawah, lengkap dengan matahari dan burung! Haha…Kalau gambarnya beda, nilainya bisa dikorting. Akibatnya, biar aman, para siswa kita jadi malas berpikir dan takut salah. Dalam artikel di Harvard Business Review, dibahas mengenai kenapa orang yang tinggal di Iceland bisa memiliki nilai tertinggi dalam survei kebahagiaan? Padahal mereka tinggal di tempat yang mungkin hanya setengah tahun sekali siang (dapet cahaya matahari). Ternyata salah satu kuncinya adalah orang-orang Iceland ini tidak mengenal konsep ’salah’ atau ’tidak cukup bagus’. Akibatnya, mereka jadi berani berbuat sesuatu tanpa takut salah.

Keempat, masih berhubungan dengan sistem pendidikan kita, adalah kita tidak diajarkan untuk berpikir kritis. Jadi jangankan untuk berargumen dengan guru kita, untuk bertanya saja kita sudah malas. Sejarah membuktikan tidak mudah menjadi orang yang kritis. Contohnya Martin Luther King yang dengan berani mengkritik otoritas gereja Katolik. Dan kita semua tahu, tekanan seperti apa yang harus ditanggungnya.

Dari pembahasan di atas, apa sesungguhnya yang ingin coba saya sampaikan? Saya berpikir kita harus mulai mengembangkan sikap berpikir yang kritis dan juga rasional. Memang tidak mudah. Sementara mayoritas mengatakan A, kalau kita pikir itu salah dan bertentangan dengan hati nurani kita, kita harus mengatakan pendapat kita. Kita harus berani untuk bersikap (dan siap dengan resiko yang menyertainya). Soe Hok Gie pernah berkata, ”Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.” Anda setuju?