K.I.S.S

by tjok

Majalah Fortune terbaru dengan judul cover “The Best Advice I Ever Got” membahas nasehat-nasehat terbaik dari orang-orang terkenal di bidangnya. Dari pebisnis seperti pemilik Microsoft, Bill Gates sampai olahragawan dunia seperti Tiger Wood memberikan nasehatnya. Saya tertarik dengan nasehat yang diberikan oleh Tiger Wood. Dalam majalah ini, dia menasehatkan untuk membuat segala sesuatu tetap simple.

Dalam artikel tersebut, Tiger Wood menceritakan pada waktu dirinya berusia 6 atau 7 tahun, dia mulai berlatih golf bersama ayahnya. Pada saat berlatih, ayahnya biasa bertanya kepadanya, “Bagaimana kamu akan memukul bola ini?” Lalu, Wood akan memilih suatu spot dan berkata, “Saya akan memukul dari sini.” Sang ayah akan berkata, “Baik kalau begitu, lakukan!” Sang ayah tidak berusaha untuk membetulkan posisi tangan, memberitahukan cara berdiri, dsb. Sang ayah mengerti dalam usia yang masih muda, Wood tidak akan mengerti juga apabila diberitahu bagaimana harus memukul menurut teori golf yang ada. Ayahnya membuat permainan tetap sederhana dengan membebaskan Wood menemukan bentuk pukulannya.

Kebiasaan ini juga terkadang terbawa sampai sekarang. Pada saat bertanding di suatu turnamen, Wood tidak lagi memusingkan posisi tangannya, cara berdiri, dsb (Btw, ternyata golf tidak semudah yang saya bayangkan. Pada waktu pertama kali mencoba, ternyata banyak hal yang harus diperhatikan: tangan kiri yang jadi poros harus tetap lurus, poros badan tidak boleh bergeser. Wah, ribet juga ternyata..haha. Tapi, seharusnya, saya ikuti nasehat Wood: pukul saja!). Yang difokuskan dalam pikirannya hanyalah untuk memasukkan bola. Yang lucu adalah para komentator yang biasanya sibuk untuk membuat teori mengenai pukulan yang dibuat Wood. Padahal, mungkin Wood hanya mengikuti instingnya dalam memukul bola.

Di departemen Teknik Industri Universitas Indonesia, tempat saya berkuliah dulu, di dinding-dindingnya dipasang kutipan-kutipan dari orang-orang terkenal. Salah satu yang saya masih ingat sampai sekarang adalah kutipan dari Leonardo da Vinci yaitu ”Simplicity is ultimate sophistication.” Saya jadi berpikir kenapa kutipan ini dipasang. Setelah dipikir-pikir, saya rasa saya temukan jawabannya. Kita, disadari maupun tidak disadari, seringkali membuat sesuatu hal menjadi lebih rumit dari yang sebenarnya. Contohnya, kalau kita baca jurnal ilmiah atau mendengar ceramah profesor-profesor, dijamin tidak banyak dari kita yang bisa mengerti isinya. Banyak istilah asing dan njelimet yang ajaib.

Saya jadi ingat dengan ucapan dari Hermawan Kartajaya (HK), atasan dan salah satu role model saya sewaktu masih bekerja di MarkPlus. Dalam seminar, HK sering bilang kalau dirinya tuh different dengan profesor-profesor marketing lainnya. Katanya, kalau profesor biasanya membuat sesuatu yang simple jadi ribet (supaya kelihatan lebih intelektual), dirinya melakukan sebaliknya yaitu membuat sesuatu yang rumit jadi simple. Itu juga alasannya kenapa HK selalu menampilka teorinya dalam bentuk model, supaya orang yang awam marketing sekalipun bisa mengerti.

Tidak cuman HK, Einstein pun menekankan pentingnya kesederhanaan. Einstein pernah bilang, “Everything should be made as simple as possible, but no simpler.” Makanya teori relativitas Einstein ditulis dengan simple banget (dan saya yakin banyak orang lebih ingat rumus ini daripada rumus Gaya Gerak Listrik…hahaha) yaitu E=MC2.

Di dunia bisnis, kesederhanaan juga ternyata makin penting. Contohnya, sekarang ada peraturan baru dimana surat perjanjian seperti permohonan kartu kredit atau asuransi harus dibuat se-simple mungkin. Kalau dulu, surat perjanjian semacam ini bisa sampai berlembar-lembar, sekarang dibuat maksimal hanya 2-3 lembar. Tujuannya jelas untuk menghindari kebingungan konsumen. Contoh lainnya adalah Iphone. Menurut saya, salah satu letak kekuatan produk-produk keluaran Apple adalah dari desainnya yang simple, minimalis tapi tetap elegan.

Alkisah, pada waktu era perang bintang (bukan Star Wars tapi yak…Haha), AS dan Uni Soviet (Rusia) bersaing ketat untuk menjadi yang terbaik dalam teknologi antariksa. Ternyata, mereka sama-sama menemukan masalah dimana para astronot dan kosmonot mereka tidak dapat menulis dengan pena di pesawat luar angkasa karena tidak adanya gaya gravitasi. Para ilmuwan AS mengeluarkan berjuta-juta dollar sampai akhirnya berhasil menemukan tinta khusus yang bisa digunakan di luar angkasa. Lalu bagaimana dengan ilmuwan Uni Soviet? Ternyata, mereka punya solusi yang sederhana yaitu pakai pensil! So, apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini? Hm, hanya satu: Keep It Simple Stupid!