Rich Dad, Poor Dad

by tjok

Pada tahun 2000, Robert Kiyosaki menerbitkan bukunya yang menjadi best seller dan sempat dijadikan “kitab suci” untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia MLM. Buku tersebut berjudul “Rich Dad, Poor Dad”. Buku ini pada intinya membahas bagaimana pentingnya seseorang untuk “melek finansial” selain dibahas juga tips dan trik dalam berinvestasi. Saya sendiri sudah membaca buku ini pada waktu saya kelas 1 SMA. Pada waktu itu, sedang berkembang model bisnis jaringan atau MLM. Dalam buku ini, Kiyosaki membandingkan prinsip financial dari dua ayahnya: yang pertama adalah ayah biologisnya – sebagai Poor Dad, dan satu lagi ayah dari teman baiknya – sebagai Rich Dad.

Apa perbedaan di antara keduanya? Secara ringkas, sosok Poor Dad mewakili karakter orang yang terdidik, tapi kurang memiliki “pengetahuan jalanan”, termasuk dalam hal ini pengetahuan finansial yang praktis. Sedangkan, sosok Rich Dad mewakili karakter orang yang mungkin kurang memiliki pengalaman studi formal sebagus Poor Dad, tapi memiliki lebih pintar dalam hal “pengetahuan jalanan”, dalam hal ini lebih “melek finansial” .

Saya jadi teringat, pada waktu di kampus dulu, pernah ikut seminar kewirausahaan dimana salah satu pembicaranya adalah Bob Sadino. Buat yang belum familiar dengan nama ini, Bob Sadino adalah pendiri dan pemilik dari Kemchicks, supermarket pertama di Kemang khusus menjual produk impor dengan konsumennya para ekspatriat di Jakarta. Bob Sadino dengan gayanya yang sedikit nyeleneh (kemana-mana selalu pakai celana pendek!) selalu bilang, “Buat apa sekolah?! Kalau mau kaya, gak perlu sekolah!”

Tentu saja, ucapan Bob Sadino ini seringkali disalahartikan oleh pendengarnya. Tapi, saya cukup setuju dengan argumen dari ucapannya ini. Dia bilang kalo orang yang sekolahnya tinggi, biasanya terlalu teoritis dan banyak perhitungan. Sibuk analisa sana-sini tapi jarang berani untuk mengeksekusi idenya. Karena orang seperti ini, takut untuk mengambil resiko. Beda dengan ”orang bodoh”, mereka biasanya lebih bonek. Hahaha…Selain itu, mereka juga lebih kreatif dalam menelurkan ide-ide bisnis. (Untuk buku lokal yang membahas kewirausahaan, saya bisa rekomendasikan buku-buku karangan Ippho Santosa. Saya sudah baca tiga bukunya, dari yang berjudul 10 Jurus Terlarang, 13 Wasiat Terlarang dan Marketing is Bullshit. Isi ketiga buku ini kurang lebih sama, jadi kalau anda tidak mau rugi, saya sarankan untuk membeli buku 13 Wasiat Terlarang saja. Ciri khas buku Ippho adalah penuh dengan cerita pebisnis sukses, bahasanya ringan dan mudah dimengerti juga).

Kembali ke buku Rich Dad, Poor Dad, ada salah satu bagian yang saya ingin share lebih dalam dalam tulisan ini yaitu pada Bab 9: Getting Started (Untuk lebih lengkapnya, buku ini bisa dengan mudah didapatkan di toko buku, atau kalau ingin lebih praktis, bisa unduh ringkasan buku ini di WikiSummaries). Dalam bab ini, Kiyosaki membagikan tipsnya dalam usaha membangun aspek finansial, yaitu: 

  1. Find a reason greater than reality to motivate you. Maksudnya adalah, kita perlu untuk menemukan dan menentukan apa yang menjadi tujuan hidup kita.
  2. Feed the mind. Kita harus rajin untuk memberi “nutrisi baik” ke pikiran kita. Dengan cara ini, kita akan memilki banyak ide dan opsi-opsi yang sangat berguna di dalam dunia bisnis.
  3. Choose friends carefully. Kiyosaki menekankan pentingnya untuk belajar dari teman-teman yang mampu memberikan pengaruh positif.
  4. Pay yourselff first. Hal ini yang mungkin seringkali lupa dilakukan oleh banyak orang. Mulailah belajar untuk mengapresiasi diri anda sendiri.
  5. Being generous. Untuk menjadi kaya, justru kita harus belajar untuk murah hati. Kiyosaki memberi contoh, dengan kita memberikan tips kepada broker yang sudah membantu menjual properti yang kita miliki, kita sesungguhnya telah menjadikan broker kita sebagai ”sekutu” kita yang akan membantu menjadi ”mata dan telinga” kita di pasar.
  6. Having heroes. Temukan orang yang dapat menjadi mentor anda. Dengan memiliki role model, kita juga akan menjadi lebih termotivasi, ”Jika mereka bisa, mengapa kita tidak?”