Cogito ergo Sum

by tjok

Ada sebuah ungkapan terkenal yang pernah diucapkan oleh Descartes, seorang filsuf Perancis yaitu “Cogito ergo Sum” yang artinya kurang lebih adalah “Aku berpikir maka aku ada”.

Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang teristimewa dikarunai kemampuan berpikir yang sekaligus membedakannya dengan ciptaan lainnya. Menarik untuk menyimak dari sejarah mengenai bagaimana kemampuan berpikir manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Pengetahuan semakin bertambah dan apa yang dahulu dianggap mustahil untuk dilakukan, sekarang dapat dilakukan.

“The Gang of Three”
Ada beberapa tokoh yang dikenal sebagai pemikir di zamannya. Beberapa yang terkenal adalah tiga tokoh yang dikenal dengan sebutan “The Gang of Three” yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat (Western Mind). Socrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari “kebenaran” dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran ”kategoris” dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.

Setelah era “The Gang of Three”, kemampuan dan proses berpikir manusia juga semakin berkembang. Di abad milenia ini, kita juga semakin akrab dengan berbagai konsep berpikir yang bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan pikir manusia seperti Mind Map-nya Tony Buzan, Parallel Thinking-nya Edward de Bono, dsb. Dengan memahami berbagai konsep berpikir ini, kita dapat lebih lagi mengoptimalkan kemampuan berpikir kita.

Sistem Pendidikan di Negara Kita
Sekolah adalah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu kita di dalam mengembangkan kemampuan nalar. Namun sayang sekali, sistem pendidikan di negara kita masih jauh dari kata ideal. Sistem pendidikan yang ada kurang mendorong siswanya untuk dapat aktif berpikir. Siswa hanya diharapkan untuk menghafal berbagai pelajaran tanpa mengerti konsep dasar dan manfaat dari ilmu yang dia pelajari. Kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif seolah dikekang dengan sistem yang ada. Siswa yang kritis dan kreatif malahan sering dianggap sebagai siswa yang ”bandel”.

Coba kalau kita disuruh menggambar pemandangan. Mungkin 80% dari kita akan menggambar sawah dengan dua gunung dan matahari di balik gunung lalu ditambah dengan burung. Apa anda menggambar seperti ini? Hahaha…

Walaupun demikian, saat ini sudah mulai banyak sekolah yang menerapkan sistem pengajaran yang berbeda. Sekolah-sekolah ini berusaha untuk mengakomodasi bakat unik tiap anak agar dapat berkembang dengan semaksimal mungkin. Sayangnya, sekolah-sekolah ini hanya dapat dinikmati oleh orang-orang tertentu saja mengingat biaya untuk menghasilkan pendidikan berkualitas yang tidak murah.

Dosen saya saat di Teknik Industri UI pernah berkata kalau pendidikan adalah kunci untuk lepas dari perangkap kemiskinan (poverty trap). Sudah seharusnya pemerintah menjadikan sektor pendidikan ini sebagai prioritas utama dalam memecahkan masalah kemiskinan. Karena dapat dikatakan masalah kemiskinan ini adalah sumber pencetus munculnya masalah-masalah sosial lainnya.

Budaya Membaca di Negara Kita
Terkait dengan proses berpikir, menurut saya, budaya membaca suatu negara sedikit banyak dapat menggambarkan tingkat kematangan berpikir suatu bangsa. Kita dapat melihat negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa memiliki budaya baca yang kuat. Kalau kita berkunjung ke negara-negara ini, dengan mudahnya kita dapat menemukan fasilitas perpustakaan publik. Bagaimana dengan Indonesia? Perpustakaan publik yang pernah saya kunjungi paling hanya Perpustakaan Nasional di Salemba dan saya merasa fasilitas yang ada masih sangatlah kurang. Apabila kita berkunjung ke sana, suasananya sangat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa atau pelajar yang mencari referensi untuk skripsi atau tugas sekolahnya.
Kondisi serupa juga hampir saya temui di kampus UI, di perpustakaan Fakultas Teknik. Kampus yang notabene adalah tempat para intelektual muda menuntut ilmu, minat baca juga saya temukan sangatlah kurang. Mahasiswanya lebih senang menghabiskan waktu di kantin daripada menggali ilmu di perpustakaan.

Hal ini jugalah yang membuat, menurut saya, negara kita sulit untuk menjadi negara yang maju dikarenakan budaya membaca yang masih sangat kurang. Masyarakat kita lebih suka berkomunikasi secara verbal dibandingkan literal. Makanya tidak heran kalau perguruan tinggi negeri kita seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung sulit untuk bersaing dengan universitas di luar negeri. Mahasiswa kita tidak biasa untuk membaca jurnal dan buku referensi. Tidak terbiasa untuk melakukan riset. Tidak terbiasa untuk membuat suatu makalah dan karya tulis.

Masyarakat kita pun masih menganggap buku sebagai kebutuh tersier (atau bahkan kuartier..Haha). Buku masih dianggap sebagai sesuatu yang mahal. Urusan perut lebih penting daripada menambah pengetahuan. Untuk beli buku bagus seharga Rp.120.000 rasanya tidak rela; tapi kalau untuk beli pakaian atau makan di restoran all-you-can-eat, tidak merasa rugi.

Saya pernah membaca suatu kutipan yang berbunyi kalau akan menjadi apa diri kita di esok hari, ditentukan oleh apa yang kita baca hari ini. Kalau kita melihat kisah hidup dari orang-orang besar, kita akan menemukan suatu kesamaan di antara mereka yaitu kebiasaan membaca yang kuat. Soekarno terbiasa membaca 5 buku secara sekaligus dalam satu waktu. Buku-buku bisa ditemukan di segala pojok rumahnya, sampai di kamar mandi pun ada rak buku khusus. Soe Hok Gie, juga sedari muda sudah membaca karya sastrawan dunia seperti Leo Tolstoy yang akhirnya membentuk Gie menjadi pemuda dengan pemikiran kritis dan tajam (bahkan katanya Gie suka tidak bayar uang bus demi bisa membeli koran). Boediono, calon (dan sepertinya akan jadi) wakil presiden dari pasangan SBY, semasa mengambil kuliah doktor di Wharton, juga suka ”ngamen” untuk mendapatkan uang saku dan beli buku!

Tayangan Televisi di Negara Kita
Tayangan televisi di negara kita juga sangat memprihatinkan. Kita dijejali tayangan-tayangan yang sebenarnya membodohkan masyarakat (sadar atau tidak sadar) seperti tayangan gosip, mistis, seks, dsb. Sangat sedikit tayangan mendidik yang bisa dinikmati. Dalam survei yang saya baca di Kompas Minggu di Perpustakaan Tembagapura, tentang tayangan televisi terburuk dan terbaik diperoleh hasil: untuk tayangan terbaik adalah Kick Andy (salah satu acara favorit saya :p), Bocah Petualang (Bolang), dsb; untuk tayangan terburuk antara lain Suami-suami Takut Istri, Termehek-mehek, dsb. Dan bisa ditebak, masyarakat kita lebih menggemari tayangan-tayangan yang masuk dalam kategori kedua.

Kesimpulan
Apa tujuan saya untuk menulis tulisan ini? Saya berpikir (maka saya ada – Hehe) bangsa kita, secara kolektif, tidak akan pernah dapat bersaing dengan bangsa lain apabila kita tidak mengubah ”budaya” kita yang masih kurang baik ini.

Apalagi di era borderless world seperti saat ini (Thomas L Friedman pernah menulis buku best seller mengenai hal ini – The World is Flat dan kemudian dilanjutkan dengan buku terbarunya Hot, Flat and Crowded), persaingan akan semakin ketat dan bila kita tidak rajin meng-upgrade diri kita, kita akan terlindas dan kalah di rumah kita sendiri.

Saya suka dengan suatu kutipan (One of my hobbies is collecting quotes :p) yang berbunyi:

”Untuk mengubah negara anda, ubahlah masyarakat anda;
Untuk mengubah masyarakat anda, ubahlah keluarga anda;
Untuk mengubah keluarga anda, ubahlah diri anda”

Sebagai penutup, saya ingin bagikan tips untuk meningkatkan kemampuan berpikir yang saya dapatkan dari artike dengan judul ”Cognitive Fitness” di Harvard Business Review yaitu:
1. Manage by walking about – berjalan dapat membantu menyeimbangkan otak kanan dan kiri
2. Read funny books – tubuh (dan otak) kita bisa lebih sehat dengan tertawa
3. Play games – memainkan permainan seperti sudoku dan catur bisa membantu untuk men-challenge otak kita tetap aktif
4. Act out – coba cara-cara baru untuk melakukan sesuatu
5. Find what you’re not learning – coba hal-hal baru
6. Get the most out of business trips – pada saat traveling, otak kita akan dipaksa untuk tetap aktif dan fokus (minimal supaya gak nyasar juga toh..haha)
7. Take notes- and then go back and read them – catat ide-ide yang terpikir (saya mulai menerapkan hal ini untuk mencatat ide-ide yang muncul sebagai bahan untuk tulisan di blog ini)
8. Try new technologies – mencoba teknologi baru akan menstimulasi panca indera kita
9. Learn a new language and instruments – poin ini sudah jelas sekali
10. Exercise, exercise, exercise – otak kita merupakan bagian dari sistem tubuh kita, jadi otak kita akan mendapatkan manfaat dari olah raga, tidur yang cukup dan nutrisi yang baik