A Class with Jacko…

by tjok

Beberapa minggu yang lalu, dunia dikejutkan dengan berita meninggalnya Michael Jackson (MJ), sang King of Pop. MJ meninggal dalam usia 50 tahun di tengah persiapan konser come back nya setelah vakum hampir sepuluh tahun. Banyak orang yang terkejut dan tidak percaya dengan berita ini. Mendadak semua acara di TV menayangkan liputan khusus tentang dirinya, MTV pun memutar kembali video klip MJ sebagai tribute untuknya. Albumnya pun kembali dilirik orang dan laris bak donut JCO (hehe.. :p).

Di balik berita sedih ini, ternyata ada suatu ironi yang baru terungkap yang berasal dari pengakuan salah seorang sahabat MJ dimana semasa hidupnya, MJ merasa sangat kesepian. Seorang superstar dunia yang biasa dielu-elukan oleh jutaan penggemarnya pun bisa merasakan kesepian. Mungkin MJ mengalami post power syndrome. Memang semenjak mencuatnya kasus pelecehan anak ke permukaan, popularitas MJ perlahan-perlahan mulai tenggelam. Hal ini sepertinya mempengaruhi kesehatannya. MJ dikabarkan jadi tergantung kepada obat-obatan penenang, dan gagal jantung yang berujung kepada kematiannya pun diduga karena obat-obatan ini (Selain itu, dikabarkan juga MJ stres karena terlilit utang sampai Rp. 4 Triliun).

Terlepas dari segala kontroversinya, ada beberapa pelajaran yang bisa saya dapatkan dari sosok MJ ini:

# Pelajaran Pertama: Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama…

Minggu lalu, saya baru saja menghadiri dua acara perpisahan teman-teman saya yang akan kembali ke Jakarta. Di dalam acara perpisahan ini, setiap orang saling memberikan kesan dan pesannya kepada satu sama lain. Menarik juga mendengarkan kesan-kesan yang muncul. Ada kesan yang lucu, ada juga yang mengharukan. Sepulangnya dari acara ini, saya jadi membayangkan kesan seperti apa yang akan saya terima dari teman-teman pada saat acara perpisahan saya nantinya. Apa kesan yang baik atau kurang baik? Masih misteri…Hehe…

Saya jadi kembali berpikir nanti pasti akan tiba waktunya giliran saya buat check out dari dunia ini menuju rumah yang sesungguhnya (bakal panas atau dingin yak? Hehe..). Kira-kira, kesan seperti apa yang akan saya tinggalkan, apakah kesan yang baik atau kurang baik atau buruk sama sekali? Atau jangan-jangan, kalau orang menyebut nama saya, yang terbayang adalah hal-hal yang buruk dan dengan ”suksesnya” masuk ke dalam jajaran penyandang nama buruk seperti Jack the Ripper, Batousai si Pembantai, Tjok si Pembunuh-Berdarah-Hangat. Ih amit-amit… :p

Jadi keinget, kalau penulis Amsal pernah menulis di Kitab Amsal, ”Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari perak dan emas”. Hm, setuju banget sih. Contohnya, kalau di dunia bisnis, nama baik tuh penting banget. Kalau sekali nama baik kita rusak, orang-orang tidak akan percaya untuk berbisnis lagi dengan kita. Kalau sudah begitu, mana bisa kaya…hahaha :p

Kalau kita baca di koran atau majalah, gak jarang kita temukan banyak politikus yang diserang latar belakangnya oleh lawan politiknya. Mungkin pikir politikus itu, gak ada yang tahu apa yang saya lakukan di masa muda. Ternyata salah bung! Masa lalu itu ternyata bisa jadi batu sandungan. Oleh karena itu, selama kita hidup, apa yang kita perbuat atau katakan musti kudu hati-hati bener tuh.

Banyak orang yang bilang kalau waktu muda gak perlu-perlu banget serius jalanin hidup. Mumpung masih muda, lakuin apa yang dimauin. Hm, gak setuju juga sih dengan pandangan seperti ini. Pertama, kalau panjang umur mungkin masih ada kesempatan buat tobat, kalau pendek umur gimana bos? Kedua, di kitab Pengkotbah, Salomo (atau dikenal juga dengan Sulaiman) pernah nulis, ”Bersukarialah hai pemuda dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!”

Nah, jadi jangan dipikir kalau Tuhan hanya taken for granted saja. Tuhan dalam ke-MahaAdilan-Nya akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang semua kita lakukan. So, selama masih hidup, berusahalah untuk tinggalkan nama yang harum. Gak cuman di hadapan manusia, tapi terlebih lagi di hadapan Tuhan. Hal ini gak mudah karena kalau salah satunya mungkin lebih mudah (Saya masih belajar untuk lebih baik lagi untuk kedua hal ini..Hehe).

”Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi Allah dan manusia.”

# Pelajaran Kedua: Jangan tunda apa yang bisa dilakukan hari ini, besok mungkin terlambat…

Masih hidup dilupakan, sudah meninggal baru diingat. Begitulah kira-kira komentar dari banyak orang terhadap kematian sang superstar. Dari kisah MJ ini, saya diingatkan juga untuk tidak menunda melakukan apa yang bisa saya lakukan hari ini, khususnya dalam hal memberikan perhatian kepada orang lain: kepada keluarga, teman-teman, dan orang di sekitar saya. Hm, kadang kalau lagi capek suka malas untuk telepon orang rumah untuk sekadar say hello saja, sekarang mau coba untuk lebih sering lagi memberikan perhatian ke orang lain. Hehe… 

Setelah belajar memberikan perhatian kepada orang yang ada di dekat kita, kita mungkin bisa ”naik kelas” untuk belajar memberikannya kepada orang yang kurang dekat dengan kita karena kita tidak pernah tahu siapa yang sangat membutuhkan perhatian kita. Siapa sangka MJ, dalam segala pencapaiannya, justru merasakan kehampaan di dalam hidupnya. Tidak hanya Jacko, saya yakin banyak orang yang merasakan hal serupa.

# Pelajaran Ketiga: Jangan buang keluarga anda sembarangan…

Segala ketenaran dan pencapaian yang kita dapatkan tidak dapat menggantikan arti keluarga dan sahabat. Ada orang yang kerja sekeras-kerasnya setiap hari sampai melupakan keluarganya. Orang ini berpikir apa yang dilakukannya ini toh juga untuk kepentingan keluarganya. Tapi ternyata keluarga kita tidak hanya butuh uang kita. Keluarga kita juga butuh perhatian dan komunikasi dengan kita.

Ada yang mengatakan kalau pada saat kita sedang sekarat menunggu ajal tiba di rumah sakit, keluarga adalah orang-orang yang paling setia untuk menemani kita. Bukan klien bisnis kita, bukan rekan kerja kita, bukan orang lain tapi keluarga kita. Tapi ironisnya, kita seringkali ”membuang” keluarga kita tanpa kita sadari.

Well, pelajaran-pelajaran di atas adalah hal-hal yang masih saya coba terus pelajari. Masih banyak PR yang harus dikerjakan dan ujian yang harus dilewati supaya bisa ”naik kelas”. Thank you MJ buat inspirasinya.