Ten Thousand Dollar View

by tjok

Suatu waktu, saya berkesempatan untuk menumpang mobil salah satu klien saya. Dalam perjalanan, kami membicarakan banyak hal: pekerjaan, keluarga, hobi, dsb. Dari perbincangan kami ini, saya dapat mengetahui kalau klien saya ini sangat suka sekali bepergian. Dia sudah melancong ke beberapa negara di dunia pada masa mudanya. Saya sangat tertarik dengan cerita-ceritanya mengenai tempat-tempat yang dikunjunginya. Sudah sejak lama saya ingin sekali berlibur ke tempat-tempat baru. Cerita-cerita para backpacker yang saya baca di buku maupun internet makin menambah ketertarikan saya untuk melakukan travelling. Mumpung masih muda, selagi masih ada waktu, tenaga dan kesempatan, saya berjanji kepada diri sendiri untuk menyempatkan melakukan travelling.

Sebenarnya saya sangat beruntung karena pekerjaan saya saat ini sangat memungkinkan saya untuk bepergian dalam waktu cukup lama. Biasanya setelah satu setengah bulan, saya mendapatkan kesempatan untuk mengambil cuti selama kurang lebih 1 minggu. Hal yang cukup ”mewah” yang tidak semua orang yang bekerja bisa dapatkan.

Akhir-akhir ini, saya mulai merencanakan kemana saya ingin pergi. Untuk dalam negeri, Bali dan Makassar jadi prioritas. Bali, alasannya sederhana saja yaitu karena saya belum pernah ke Bali!! Haha..Sebenarnya pernah sih, tapi itu pun hanya transit selama 20 menit. Jadi, Bali jadi prioritas nomor satu. Kalau Makassar, saya ingin coba mengunjungi suatu theme park baru yang baru saja selesai dibangun oleh Chaerul Tanjung dari Para Group dan Kalla Group. Menurut berita yang saya baca, taman hiburan terbesar di Indonesia timur ini dibuat dengan mengadaptasi konsep seperti Universal Studio. Hal ini tidak aneh mengingat sang pendiri adalah bos dari Trans TV.

Untuk luar negeri, saya ingin sekali ke Hong Kong dan Singapura. Saya ingin mengunjungi Disneyland dan dari Hong Kong mampir ke China daratan. Kalau Singapura lebih karena saya ingin lihat universitas-universitas di sana: NUS Business School, INSEAD, dan Chicago. Untuk ke Singapura dan Hong Kong, mungkin waktu yang paling pas adalah saat awal tahun depan sebelum saya mengambil training perusahaan di Kuala Lumpur.

Walaupun saya belum pernah ke Bali, saya cukup beruntung bisa bekerja di Papua. Saya bisa cukup ”sombong” karena sangat jarang orang Indonesia sendiri pernah ke Papua. Papua, menurut saya, sangatlah indah. Banyak potensi wisata yang sebenarnya bisa digali dan dikembangkan dari tempat ini. Pada saat pertama kali tiba di Timika, dari atas pesawat, saya tercengang melihat hutan hujan tropis yang membentang dengan sangat luasnya. Saya bayangkan luasnya dapat beribu-ribu kali lapangan sepak bola. Namun, sekali lagi sayang, tampaknya pemerintah kita belum dapat benar-benar ”menjualnya”. Yang ada adalah orang asing yang memanfaatkannya. Contohnya adalah tempat snorkeling dan diving Radja Ampat, seperti yang saya baca di National Geographic Travelling, diakui sebagai tempat diving terbaik di dunia!

Klien saya sempat berujar kalau pemandangan yang kita lihat setiap hari di tempat kita bekerja sesungguhnya bernilai sangat tinggi. Klien saya menyebutnya dengan istilah ”$ 10.000 View”. Yup, saya sangat setuju dengan dia dan saat itu saya merasa sangat beruntung karena dapat menikmati pemandangan yang begitu ”mahalnya” setiap hari tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Saya berjanji akan memasukkan beberapa foto pemandangan yang bernilai ”$ 10.000” di blog ini. Have a nice weekend! 