Obama, Internet dan Kepemimpinan yang Melayani

by tjok

Barack Obama berhasil mencetak sejarah sebagai calon presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat dari partai Demokrat. Senator asal Illinois ini berhasil memenangi persaingan kompetisi calon presiden asal Partai Demokrat melawan Hillary Clinton.

 

Dalam salah satu wawancaranya, Obama mengakui peran internet sangatlah besar di dalam keberhasilan strategi kampanyenya. Dengan internet, Obama dapat menggalang dukungan dan dana yang besar dari para pendukungnya. Bahkan Obama pernah suatu kali dapat mengumpulkan dana kampanye hampir sebesar US$ 1 juta hanya dalam waktu 1 jam melalui internet.

 

Obama berhasil pula memanfaatkan internet untuk membangun hubungan dua arah dengan para pendukungnya. Melalui internet, para pendukung Obama dapat menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Obama. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap aspirasi rakyat tersebut, tim kampanye Obama berhasil dalam membuat pesan kampanye yang lebih baik dan tepat sasaran.

 

Dalam kampanyenya, saya melihat, Obama berhasil membangun positioning dirinya sebagai pemimpin yang sederhana dan dekat dengan rakyat. Keberhasilan Obama dalam menarik simpati rakyat Amerika tidak terlepas dari kemauan dan usahanya untuk selalu mendengarkan aspirasi masyarakat. Apa yang dilakukannya dengan membuat website untuk dapat berkomunikasi langsung dengan pendukungnya tersebut adalah salah satu contohnya.

 

Kemauan untuk mendengar Obama ini merupakan salah satu karakteristik dari gaya kepemimpinan melayani (servant leadership). Konsep kepemimpinan melayani sesungguhnya sudah sejak lama dikenal. Bahkan Tuhan Yesus sendiri telah mengajarkan dan mempraktekkannya. Tuhan Yesus pernah berkata bahwa apabila seseorang ingin menjadi seorang pemimpin, ia harus siap pula untuk menjadi seorang pelayan (Markus 10:42-45).

 

Apa sesungguhnya kepemimpinan yang melayani itu? Dalam buku klasiknya, Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness,  Robert Greenleaf mengemukakan ada setidaknya sepuluh karakter yang menjadi ciri dalam servant leadership yaitu listening, empathy, healing, awareness, persuasion, conceptualization, foresight, stewardship, commitment to grow others, dan building the community.

 

Tidak seperti gaya kepemimpinan konvensional yang bersifat vertikal yaitu hubungan antara atasan dan bawahan dengan dibatasi hierarki organisasi yang kaku. Gaya kepemimpinan yang melayani sebaliknya mendorong terjadinya kolaborasi, empati, dan kepercayaan antara atasan dan bawahan.Dengan cara ini, organisasi ternyata dapat menjadi lebih berkembang dan mendorong terciptanya kinerja yang mengesankan.

 

Keberhasilan Obama ini merupakan contoh dimana pada dasarnya masyarakat semakin mendambakan sosok pemimpin yang tidak hanya berada di ”menara gading” saja. Masyarakat semakin mendambakan sosok pemimpin yang mau mengerti dan melayani kebutuhan mereka. Saat ini, pemimpin yang melayani tidak hanya dibutuhkan di gereja atau tempat ibadah saja, tapi juga di tempat kerja dan di masyarakat.

 

            Obama juga telah memberikan contoh dimana perkembangan teknologi internet telah terbukti dapat membantu dirinya untuk berhubungan lebih dekat dengan para pendukungnya. Obama dapat mendengarkan dan menanggapi aspirasi para pendukungnya dengan keberadaan teknologi internet ini.

 

            Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda menjalankan gaya kepemimpinan melayani? Sudahkah anda memanfaatkan teknologi internet untuk semakin mendekatkan diri anda dengan para stakeholders anda?