Usain Bolt, Ronaldinho, Susi Susanti
Usain Bolt, sprinter asal Jamaika, baru saja berhasil memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri di Kejuaraan Dunia Atletik di Berlin. Dia berhasil menajamkan rekor yang dibuatnya saat Olimpiade Beijing untuk lari 100 meter, dari 9,69 detik menjadi 9,58 detik. Selain itu, Bolt juta sukses memecahkan rekor di nomor 200 meter.
“Why do Jamaicans run so fast?” adalah judul film dokumenter yang sedang dibuat untuk menyelediki kenapa pelari asal Jamaika begitu menonjol di olahraga ini. Padahal dibandingkan dengan negara lain yang lebih besar seperti AS, Jamaika hanyalah negara kecil.
Ternyata salah satu jawaban terbesarnya adalah kompetisi di sekolah. Banyak anak di Jamaika yang harus berjalan jauh untuk berlatih dan bertanding di kompetisi antarsekolah. Kondisi ini yang kemudian berkontribusi melahirkan sprinter dunia macam Bolt, Asafa Powell, Ben Johnson, dsb.
Ronaldinho Gaucho, seperti kebanyakan anak kecil di Brasil, mengejar mimpinya untuk menjadi pesepakbola profesional. Memang bagi masyarakat Brasil, sepola sudah mendarah daging di dalam kehidupan mereka. Selain itu, sepabola adalah alat untuk mendapatkankesuksean, alat untuk lepas dari jerat kemiskinan. Maka tidak heran kalau kebanyakan pesepakbola top dari Brasil ini berasal dari kalangan menengah bawah, kecuali Kaka yang berasal dari kalangan menengah atas.
Apa yang menyebabkan orang Brasil begitu piawai memainkan si bola bundar? Apa mereka dikaruniai gen jenius sebagai pesepakbola andal seperti sang legenda Pele? Atau mereka memilki anatomi tubuh yang spesifik? Atau karena merka biasa menari Samba sehingga membantu mereka ‘menari’ di lapangan?
Medali emas pertama Indonesia di Olimpiade didapatkan dari cabang bulu tangkis. Di Olimpiade Barcelona, Susi Susanti berhasil menumbangkan lawannya dari Korea, Bang Soo-Hyun di final. Dan dua jam kemudian, tunangannya Alan Budi Kusuma berhasil meraih medali emas di tunggal putra.
Perjuangan Susi untuk menjadi juara olimpiade, kita tahu bersama, tidaklah mudah. Susi telah mengorbankan sebagian besar hidupnya dengan berlatih, berlatih dan berlatih. Dan hal ini dilakukannya dengan penuh disiplin dan konsistensi sejak usia yang masih sangat muda.
Apa yang bisa kita petik dari 3 cerita di atas? Walaupun kita bukanlah seorang olahragawan, tapi ada nilai positif yang bisa kita ambil yang pastinya akan berguna di dalam kehidupan kita.
Dari cerita mengenai Bolt, kita belajar pentingnya kompetisi. Kompetisi yang sehat sesungguhnya sangat penting untuk mengasah diri kita. Kompetisi akan memacu diri kita untuk menjadi lebih baik. Salah satu alasan saya memilih kuliah di Teknik Industri UI adalah karena saya tahu di tempat ini ada banyak orang yang lebih pintar dari saya. Karena itu, saya selalu terpacu untuk menjadi lebih baik lagi.
Dari cerita Ronaldinho, kita bisa lihat kadang kesusahan itu bisa jadi motivasi terbaik untuk kita maju. Saya pernah lihat sebuah buku mengenai kewirausahaan yang berjudul “The Power of Kepepet”. Kadang justru kesusahan (baca:kepepet) itu bisa berdampak baik untuk kita. Di Business Week, diceritakan ada seorang wanita yang membuka usaha (dan usahanya sukses) setelah sebelumnya dirinya dipecat oleh perusahaannya (karena dampak krisis global).
Dari cerita Susi Susanti, kita bisa belajar kalau tidak ada yang namanya kesuksesan instan. Harus ada proses jatuh bangun sebelumnya. Harus ada ‘harga’ yang dibayar untuk kesuksesan itu. Sayangnya kita di hidup di masa dimana serba instan. Semua orang mau sukses tapi maunya instan, belum lagi tidak mau bayar ‘harga’. Kita, sebagai generasi milenia, dianggap tidak se-tough orang tua kita, kita ‘lembek’. Hal ini yang harus mulai kita ubah: belajar untuk lebih disiplin, konsisten (di Koran Sindo kemarin, kutipannya kalau tidak salah, ‘orang yang sukses adalah orang yang menyelesaikan apa yang dimulainya), kerja keras dan nilai-nilai lainnya yang sebenarnya sudah kita tahu, tapi belum dilakukan!
Penyakit Apa yang Diderita oleh Esther dalam Film Orphan?
Tadi siang, saya baru saja menonton film thriller Orphan. Saya berusaha untuk tidak memberikan spoiler terlalu banyak mengenai film itu. Oleh karena itu, bagi yang belum nonton, sebaiknya tidak melanjutkan membaca tulisan ini.
Saya sendiri sempat tidak sengaja mendengar spoiler film sebelum menontonnya, walaupun begitu, filmnya tetep seru untuk disimak dari awal sampai akhir. Ketegangan yang dibangun begitu terjaga sepanjang film.
Oke, jadi dalam film ini, diceritakan ternyata tokoh yang bernama Esther bukanlah anak kecil seperti yang terlihat. Secara fisik, Esther nampak seperti anak berumur 9 tahun, tapi dia sebenarnya sudah berusia 33 tahun.
Esther menderita suatu penyakit hormonal yang menyebabkan tubuhnya mengalami perlambatan. Karena penasaran dengan penyakit yang diderita Esther ini, saya mencoba googling dan menemukan beberapa situs yang ternyata membahas topik ini juga.
Ada dua situs yang membahas penyakit ini. Menurut situs tersebut, Esther menderita penyakit yang disebabkan kelainan pada Pituitary-nya. Sederhananya, pituitary ini adalah salah satu bagian di otak kita yang mengatur sekresi hormon di tubuh kita, dimana salah satunya hormon pertumbuhan. (Karena saya tidak memiliki kompetensi sama sekali di bidang kedokteran, saya tidak akan membahas jauh mengenai hal ini, buat teman-teman yang tertarik, bisa akses ke link berikut: http://www.pituitary.org/disorders/)
Situs kedua yang saya temukan mengatakan kalau penyakit Esther ini dikenal dengan nama sindrom Turner. Sindrom Turner disebabkan oleh kelainan pada kromosom dimana normalnya seorang wanita akan memiliki 2 kromosom X, pada penderita sindrom ini, hanya memiliki satu saja atau tidak berfungsi sempurna. Akibatnya, berpengaruh pada pertumbuhan tubuh (baca: jadi lebih pendek dari orang pada umumnya dan ada beberapa indikasi lain yang tidak mungkin dibahas semua dalam tulisan ini). Untuk teman-teman yang tertarik lebih jauh bisa lihat di link berikut:http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20090729005101AAyt1nu)
Stand Up, Speak Up
Kasus 1
VOC yang notabene adalah sebuah konglomerasi Belanda berhasil mengeruk keuntungan di Nusantara selama kurang lebih tiga setengah abad. Dari pelajaran Sejarah yang kita pelajari waktu sekolah, kita tahu kunci keberhasilan VOC sehingga mampu menancapkan kukunya begitu lama adalah politik adu domba atau dikenal juga dengan Devide et Impera. VOC berhasil memecah belah raja-raja di Nusantara sehingga tidak bersatu melawannya.
Kasus 2
Dalam sebuah poling yang dilakukan majalah remaja pria Hai beberapa waktu lalu, ditanyakan kepada responden yang adalah siswa SMA, apa kriteria yang mereka gunakan untuk memilih presiden? Hasilnya yang mengejutkan adalah mereka akan memilih presiden yang: keren (ini pemilihan presiden bos bukan idol..haha), memiliki pergaulan internasional yang luas (oke ini lebih mending dari yang pertama, tapi darimana bisa tahu? Dari jumlah friends di Facebook si capres?), dan alasan-alasan lainnya yang aneh bin ajaib seperti ikut-ikutan teman dan keluarga. Mungkin tidak sedikit dari kita yang seperti responden dalam poling tersebut pada waktu nyontreng pilpres kemarin. Pilih capres A karena gagah dan jago nyanyi serta bikin lagu (ini pasti pilhan ibu-ibu ^^), pilih capres B karena sama-sama dari kampung yang sama (dengan premis kalo capres ini terpilih, pasti kampungnya akan ikut makmur juga), atau pilih capres C karena katanya pembela wong cilik, dsb.
Kasus 3
Industri musik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak band-band atau penyanyi baru bermunculan, sebut saja yang cukup fenomenal yaitu almarhum Mbah Surip dengan lagu ”Tak Gendong” nya. Saya sendiri bingung dengan kesuksesan Mbah Surip ini. Dari segi lagu dan lain-lain biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Apa kesuksesannya dikarenakan strategi marketing yang jitu? Bisa jadi. Saya pikir tim marketing Mbah Surip mampu menciptakan buzz di masyarakat. Terlepas dari enak atau tidak lagunya, orang-orang jadi membicarakan keunikan Mbah Surip dan di sini peran media sangat kuat. Selain itu, saya melihat kesuksesan Mbah Surip juga dikarenakan karakteristik masyarakat kita yang mudah terpengaruh dengan pilihan orang banyak. Artinya, awalnya kita merasa lagu Mbah Surip tidak enak dan aneh, tapi karena banyak orang yang ‘suka’ dan sering membicarakannya, kita jadi ikut-ikutan ‘suka’.
Contoh lain adalah Kangen Band. Saya merasa lagu-lagu band ini cukup enak didengar tapi saya bingung kenapa banyak orang yang ‘menghujat’ band ini sebagai ‘band sampah’. Saya menduga sebenarnya banyak orang juga yang sebenarnya hanya ikut-ikutan tidak menyukai lagu-lagu band ini karena malu dianggap memiliki selera musik yang ‘rendah’.
Kasus 4
Seminggu terakhir ini, saya melihat banyak orang yang tiba-tiba menjadi ’heroik’ dengan ’menghujat’ negara tetangga yang dianggap sudah mencuri budaya bangsa kita. Mereka menunjukkan rasa nasionalisme mereka dengan memasang status ’perjuangan’ di Facebook atau Twitter.
Pertanyaannya adalah apakah orang-orang itu benar-benar peduli dengan budaya mereka sendiri? Apa mereka suka pakai batik (sebelum sepopuler sekarang)? Apa mereka menyempatkan diri untuk nonton tarian pendet saat liburan ke Bali? Atau Reog Ponorogo saat liburan ke Ponorogo? Tanpa bermaksud untuk menuduh mereka memasang status itu hanya biar ikutan eksis, saya pikir mereka semua cinta produk dan budaya Indonesia (hahahaha…LOL).
Kasus 5
Semua bule yang datang ke Jakarta dibuat terheran-heran waktu keliling kota ini, apalagi kalau diajak ke mall seperti Grand Indonesia atau Pacific Place. Mereka heran karena yang mereka tahu negara kita itu negara dengan banyak utang. Walaupun ’miskin’, ternyata kalau dalam urusan barang-barang mewah, orang kita tidak ketinggalan. Bahkan, kalau tidak salah, produsen smart phone dunia sengaja memilih Jakarta sebagai tempat launching pertama produknya di seluruh dunia. Luar biasa!!
Sekarang tidak aneh kalau kita lihat orang-orang yang menenteng blackberry atau iphone. Dan bisa ditebak, lebih kebanyakan pemilik gadget ini membeli bukan karena membutuhkan fungsinya tapi biar kelihatan trendi!! Dari sekian banyak fitur yang ada, yang dipakai cuman BBM atau Facebook…Hahaha…
Dari kelima kasus di atas, apa yang ingin saya coba bagikan? Dari kelima kasus di atas, kita dapat melihat salah satu karakteristik masyarakat kita (ini pendapat pribadi, bukan seorang antropolog…^^) yaitu mudah untuk dipengaruhi oleh opini publik.
Boleh setuju atau tidak dengan pendapat ini. Dalam salah satu wawancaranya, Sri Mulyani juga pernah mengungkapkan pendapat yang kurang lebih sama. Dia berpendapat masyarakat kita sebetulnya mudah dimotivasi (baca: dipengaruhi), mudah tersentuh, tapi kurang dapat bertahan (baca: persistence) dalam mengerjakan sesuatu.
Kenapa bisa begitu? Ada banyak sebab. Pertama, bisa jadi karena tidak mau terlihat berbeda dengan orang lain. Contohnya adalah kalau teman-teman kerja kita biasa pulang tenggo, kita juga ikutan karena takut dicap ’cari muka’. Saya gak tahu apa hal ini ada hubungannya dengan sistem demokrasi yang dianut bangsa ini dimana majority wins (jadi biar gak jadi pihak yang ’kalah’ mendingan ikut suara mayoritas).
Kedua, untuk menghindari konflik. Dalam rapat atau kesempatan diskusi baik di kampus maupun di tempat kerja, kita seringkali menjumpai banyak ’Yes Man’. Kalau ditanya pendapatnya, selalu bilangnya pendapat anda lebih baik, kita jalani pendapat anda. Beda dengan orang bule atau India, yang biasanya kekeuh sama pendapatnya (walaupun salah..haha).
Ketiga, sistem pendidikan kita tidak mengakomodasi para siswanya untuk berpikir kreatif (baca: beda). Kalau disuruh gambar pemandangan, harus ada dua gunung, sawah, lengkap dengan matahari dan burung! Haha…Kalau gambarnya beda, nilainya bisa dikorting. Akibatnya, biar aman, para siswa kita jadi malas berpikir dan takut salah. Dalam artikel di Harvard Business Review, dibahas mengenai kenapa orang yang tinggal di Iceland bisa memiliki nilai tertinggi dalam survei kebahagiaan? Padahal mereka tinggal di tempat yang mungkin hanya setengah tahun sekali siang (dapet cahaya matahari). Ternyata salah satu kuncinya adalah orang-orang Iceland ini tidak mengenal konsep ’salah’ atau ’tidak cukup bagus’. Akibatnya, mereka jadi berani berbuat sesuatu tanpa takut salah.
Keempat, masih berhubungan dengan sistem pendidikan kita, adalah kita tidak diajarkan untuk berpikir kritis. Jadi jangankan untuk berargumen dengan guru kita, untuk bertanya saja kita sudah malas. Sejarah membuktikan tidak mudah menjadi orang yang kritis. Contohnya Martin Luther King yang dengan berani mengkritik otoritas gereja Katolik. Dan kita semua tahu, tekanan seperti apa yang harus ditanggungnya.
Dari pembahasan di atas, apa sesungguhnya yang ingin coba saya sampaikan? Saya berpikir kita harus mulai mengembangkan sikap berpikir yang kritis dan juga rasional. Memang tidak mudah. Sementara mayoritas mengatakan A, kalau kita pikir itu salah dan bertentangan dengan hati nurani kita, kita harus mengatakan pendapat kita. Kita harus berani untuk bersikap (dan siap dengan resiko yang menyertainya). Soe Hok Gie pernah berkata, ”Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.” Anda setuju?
You are what you wear
“You are what you wear”. Banyak dari kita yang pasti pernah mendengar ungkapan ini. Busana telah berevolusi dari fungsi dasarnya sebagai penutup tubuh. Busana pada saat ini telah jauh berkembang fungsinya.
Evolusi Busana
Busana sebagai salah satu penanda dari identitas seseorang. Dari busana yang dikenakannya, kita bisa menebak apa profesi atau status sosial seseorang. Contoh paling gampang adalah seragam. Dari seragam, kita bisa tahu apa orang itu bekerja sebagai petugas kebersihan taman kota, penjaga loket busway atau polisi.
Busana sebagai alat aktualisasi diri. Kemarin malam, di O Channel, ada dibahas soal salah satu komunitas pecinta Cosplay di Jakarta. Buat yang belum tahu, cosplay ini adalah istilah untuk kegiatan dimana orang-orang membuat dan memakai kostum tokoh anime kesayangannya. Tidak sedikit orang yang menganggap aneh orang-orang yang menggemari cosplay ini. Karena memang biasanya busana yang dipakai itu rada ”ajaib”. Tapi bagi pecinta cosplay, cosplay adalah sarana untuk merasakan (baca: aktualisasi) menjadi tokoh anime kesayangannya.
Busana sebagai alat penunjang dalam pekerjaan kita. Dalam salah satu seminar James Gwee yang saya ikuti minggu lalu, salah satu tips yang dibagikannya untuk dapat sukses di pekerjaan adalah masalah kita berbusana. Menurut dia, tidak bisa dibohongi kalau orang lain pasti pertama kali melihat tampak luar kita. Dia memberikan contoh bagaimana orang mau percaya untuk menginvestasikan uangnya kepada kita kalau dia melihat kita tidak mampu mengurus diri kita sendiri. Saya pikir poin James ini valid. Saya merasakan sendiri di pekerjaan saat ini sebagai seorang konsultan, kita diharuskan untuk berbusana sebaik mungkin karena hal itu penting dalam menunjang kredibilitas kita di mata klien.
Memang ada beberapa profesi tertentu yang menekankan lebih pentingnya penampilan, biasanya pekerjaan yang banyak berinteraksi dengan orang seperti pekerja di bidang PR, artis, presenter, dsb. Walaupun pekerjaan kita tidak memiliki intensitas yang tinggi untuk berinteraksi dengan orang banyak, tetap saja kita perlu memperhatikan apa yang kita kenakan.
Selamat Tinggal Marlboro Man
Yang menarik diperhatikan, dalam beberapa tahun terakhir ini, telah terjadi pergeseran gaya berbusana pria perkotaan. Sekarang sudah bukan eranya lagi ”Marlboro Man”, sekarang adalah eranya cowok-cowok cantik ala ”BBF” (no offense girls!! Hahaha…LOL). ”Marlboro Man” mewakili image cowok macho, agak urakan dan liar sudah tidak digemari oleh para wanita (dan pria!!). Sebaliknya ”BBF Boy” mewakili image cowok pesolek dengan muka mulus tanpa jerawat sedikit pun, rambut selalu tertata rapi walaupun ditiup kipas angin sekalipun..Hahaha. Dan sekarang sepertinya banyak pria yang mengejar image ”BBF Boy” ini (except me…wakakaka…)
Di majalah Esquire edisi September (I bought this magazine to keep me updated with the latest man-related info, not the fashion info actually…hahaha), ada dibahas mengenai apa itu definisi pria yang fashionable yaitu:
Berbusana gaya terbaru yang sedang populer di masa ini walaupun biasanya bukan barang baru karena pernah populer di masa lampau (Ow okay, gaya berbusana saya tidak banyak berubah sejak SMP dulu…Hm, jadi rasanya gak memenuhi kriteria pertama)
Fashion items-nya tidak hanya celana panjang, kemeja, jaket, celana pendek, T-shirt dan setelan jas, masih ada yang namanya vest, scarf, suspender, dan lain-lain. (Scarf? Suspender? Wakakaka)
Berani mengenakan apa yang dulunya hanya dikenakan wanita: warna cerah, motif floral, bordir, potongan asimetris (Warna cerah dihindari secara kulit saya item, motif floral? Bordir? Ini bukannya kebaya yak???)
Yak, bisa ditebak, berdasarkan definisi di atas, saya bukan orang yang fashionable..(kecewa bercampur lega…LOL..hahaha).
Well, sekalipun saya bukan seorang fashionista, tapi menurut saya, gaya busana yang asik itu yang:
Following the rules. Artinya apa yang kita pake itu bisa sesuai dengan situasi dan kondisi. Kalau kantor tempat kita kerja mengharuskan kita tampil profesional dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan, ya ikutin aja. Kalau diundang ke acara yang dress code-nya casual, ya jangan pake gaun pesta (buat yang cewe) atau batik (buat yang cowo)…hahaha…
Gak harus selalu ikutin mode. Obama pernah dikritik karena jeans biru lusuhnya yang dianggap sebagai ”mom jeans”. Terus apa kata Obama: ”Saya benci belanja. Jeans ini nyaman saya pakai. Kalau anda ingin presiden anda kelihatan keren dengan jeans ketat, maaf. Itu bukan saya. Tidak cocok dengan saya.” (Dikutip dari Esquire). Jadi, bisa kira-kira sendirilah mode mana yang cocok dan gak cocok buat kita.
Gak harus pake barang branded. Kadang orang lain sebenernya gak terlalu peduli dengan merek baju yang kita pakai. Sepanjang it looks good on us, sudah oke. Saya sendiri kalau beli baju yang bermerek bukan karena alasan ”gengsi” atau supaya terlihat lebih gaya. Tapi lebih karena barang bermerk bagus punya kualitas barang yang lebih bagus juga, nyaman, gak cepat rusak dan modelnya oke untuk dipakai dalam waktu lama.
Do not judge the book by its cover
Gandhi pernah “diledek” oleh Winston Churchill sebagai ”pengemis telanjang” karena gaya busananya yang sangat sederhana. Sehari-harinya, Gandhi biasa hanya mengenakan kain tradisional sebagai ”seragamnya”. Sangat-sangat sederhana. Walaupun begitu, kita tahu kalau Gandhi adalah tokoh yang besar. Bahkan bagi orang India, Gandhi diberi nama Mohandas yang artinya orang suci.
Kita sering mendengar ungkapan ”Don’t judge the book by its cover”. Jangan sampai kita terlalu cepat menilai orang lain hanya dari penampilan luarnya saja. Bukankah kita sering dengar berita kejahatan yang dilakukan oleh para ‘penjahat berdasi”. Dari luar tampaknya sopan dan bisa dipercaya, ternyata adalah seorang penipu. Atau orang yang belagak kaya, tapi sesungguhnya tidak punya apa-apa. Semua barang yang dipunya hanya pinjaman saja.
Suatu hari, ada sepasang suami istri yang memiliki anak yang menjadi mahasiswa Harvard hendak menemui rektor Harvard. Karena penampilan suami istri ini sangat-sangat sederhana, bahkan terkesan lusuh, rektor ini tidak mau menemui mereka. Bagi rektor itu, waktunya sangat berharga, tidak layak dihabiskan untuk menemui mereka. Rektor itu meminta sekretarisnya untuk memberi tahu suami istri ini kalau dia sangat sibuk dan tidak dapat menemui mereka. Namun demikian, suami istri ini tetap menunggu. Karena tidak pulang-pulang juga, akhirnya rektor ini bersedia menemui suami istri ini.
“Apa yang bisa saya bantu,” tanya si rektor. ”Kami memiliki anak yang bersekolah di Harvard ini…” kata sang suami. Sang rektor setengah tidak percaya mendengarkan perkataan bapak ini. Yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana mungkin orang miskin seperti kamu mampu menyekolahkan anak di Harvard.
“Dan anak kami sangat bangga bisa menjadi bagian universitas ini,” lanjut si ibu. “Lalu apa yang kalian inginkan?” si Rektor mulai tidak sabar. “Putera kami baru saja meninggal dunia dan kami ingin membuat sesuatu untuk mengenang anak kami di Harvard.”
“Hah, kalian pikir Harvard itu tempat apa? Kalau setiap orang yang meninggal dibuatkan tugu peringatannya, Harvard akan jadi seperti kuburan!”
”Kami tidak bermaksud untuk membuat tugu peringatan Pak. Kami ingin menyumbangkan uang untuk pembangunan gedung untuk mengenang anak kami”
”Gedung?! Apa kalian tidak tahu berapa juta dollar yang dibutuhkan untuk membangun gedung di Harvard. Kalian hanya melantur saja dari tadi. Maaf, saya saat ini sibuk sekali.”
Akhirnya suami istri itu pergi dari ruangan rektor itu. Beberapa tahun kemudian, berdirilah universitas baru di Amerika yang sampai sekarang masih termasuk dalam Ivy League. Universitas itu adalah Stanford University dan suami istri itu sesungguhnya adalah keluarga Stanford yang kaya raya.
Moral of the story: Do not judge the book by its cover!
So, kesimpulan dari tulisan ini: gak ada salahnya dengan kita “mendandani” diri kita dengan memakai busana yang bagus, cuman jangan hanya puas sampai situ saja. Selain apa yang tampak, kita juga harus ”mendandani” apa yang ada di dalam: karakter kita, pengetahuan kita, keterampilan kita. Bukankah apa yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan bernilai kekal?
Juggling Elephants
Saya baru saja selesai membaca buku yang saya pinjam dari perpustakaan Tembagapura. Buku tersebut berjudul “Juggling Elephants” (sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul The Success Story of Life). Tema buku ini, menurut saya, cukup menarik (walaupun tema sejenis sudah banyak dibahas di buku-buku lain). Oleh karena itu, dalam tulisan ini, saya mencoba untuk men-summary-kan isi buku ini.
Buku ini membahas kiat-kiat bagaimana meraih sukses dalam pekerjaan, keluarga dan persahabatan. Tema ini sengaja diangkat oleh pengarang buku ini, Jones Loflin (penulis pendamping Who Moved My Cheese) dan Todd Musig, mengingat banyak orang yang merasa frustasi dengan hidupnya. Banyak orang yang tidak dapat menemukan kepuasan dalam hidupnya sekalipun orang tersebut memiliki pencapaian yang tinggi di dalam karirnya. Pada intinya, buku ini mencoba memberikan tips kepada pembacanya untuk menyeimbangkan tiga aspek dalam hidupnya (yang diilustrasikan sebagai arena-arena sirkus) yaitu pekerjaan, keluarga dan persahabatan.
“Juggling Elephants” atau “Melempar gajah ke udara” adalah metafor yang digunakan untuk memberikan gambaran akan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Menurut pengarang, banyak orang yang berusaha terlalu keras mencoba untuk melakukan terlalu banyak hal yang sesungguhnya sudah di luar batas kemampuan mereka. Contohnya, terlalu sibuk mengejar karir, bahkan di hari libur tetap bekerja, hingga tidak ada waktu lagi dengan keluarga mereka.
Yang menarik dari buku ini adalah gaya bercerita yang ditampilkan dalam bentuk dialog antartokoh dimana tokoh utama dalam buku ini yang bernama Mark (tokoh yang merasa tidak puas dengan ketiga arena sirkus kehidupannya) belajar dari pawang sirkus bernama Victor dan Dominic mengenai filosofi kehidupan yang dianalogikan sebagai sebuah sirkus.
Secara singkat, di bawah ini adalah beberapa poin yang bisa dipelajari dari buku yang pernah diterbitkan juga dengan judul “Hidupmu adalah Sirkusmu”:
- Diri kita dapat dianalogikan sebagai seorang pemandu sirkus yaitu orang yang bertanggung jawab dan memegang kendali penuh atas pencapaian kesuksesan sebuah pertunjukan sirkus.
- Seorang pemandu sirkus tidak mungkin berada di dalam ketiga arena atau di tengah kelompok pemain sirkus yang berbeda, pada waktu bersamaan. Ketiga arena yang dimaksud mewakili kehidupan pekerjaan, keluarga dan persahabatan kita. Artinya, kita harus fokus pada “arena” dimana kita berada pada saat itu, namun sesekali, kita perlu pindah ke arena yang lain, secepat mungkin. Misalnya adalah pada saat kita sedang bersama keluarga kita, jangan pikirkan pekerjaan kantor anda. Untuk mendapatkan hubungan atau hasil yang berkualitas, anda perlu meletakkan fokus anda pada apa yang anda kerjakan pada saat itu.
- Kunci keberhasilan suatu pertunjukan sirkus adalah menggabungkan setiap kelompok atraksi sirkus sehingga babak demi babak dapat berjalan secara berkesinambungan.
- Kita harus dapat memutuskan, pada saat manakah kita harus memasuki suatu arena sirkus dengan tepat.
- Setiap aksi harus memiliki sasaran yang pasti.
- Hubungan antara pemandu sirkus dan pelaku atraksi akan memengaruhi kesuksesan pertunjukan sirkus.
- Setiap anggota tim adalah penting dan harus dikoordinasikan berdasarkan aksinya masing-masing secara tepat agar tim dapat meraih kesuksesan dalam kebersamaannya.
- Pentingnya untuk menawarkan secara terus menerus suatu imbalan yang positif untuk prestasi kerja yang baik dari pemain sirkus. Sebaliknya, teguran harus diberikan kepada mereka yang membangkang. Berikan masukan yang membangun untuk pemain yang berperilaku negatif dan memiliki kinerja yang buruk tersebut.
- Setiap orang memiliki harapan yang terselubung untuk dapat diwujudkannya. Namun, seringkali terhalangi oleh beban pekerjaannya sehari-hari.
- Sesekali manusia perlu untuk tertawa, rileks dan keluar dari beban rutinitasnya.
- ”Intermission” merupakan salah satu bagian penting dalam menciptakan suasana pertunjukan sirkus yang lebih baik.
- Apa yang telah kau lakukan untuk meningkatkan kualitas masing-masing kelompok arena dari program sirkus kehidupanmu?
- Pertunjukan sirkusmu selanjutnya, harus lebih baik daripada pertunjukan sirkus yang dilakukan pada hari ini.
K.I.S.S
Majalah Fortune terbaru dengan judul cover “The Best Advice I Ever Got” membahas nasehat-nasehat terbaik dari orang-orang terkenal di bidangnya. Dari pebisnis seperti pemilik Microsoft, Bill Gates sampai olahragawan dunia seperti Tiger Wood memberikan nasehatnya. Saya tertarik dengan nasehat yang diberikan oleh Tiger Wood. Dalam majalah ini, dia menasehatkan untuk membuat segala sesuatu tetap simple.
Dalam artikel tersebut, Tiger Wood menceritakan pada waktu dirinya berusia 6 atau 7 tahun, dia mulai berlatih golf bersama ayahnya. Pada saat berlatih, ayahnya biasa bertanya kepadanya, “Bagaimana kamu akan memukul bola ini?” Lalu, Wood akan memilih suatu spot dan berkata, “Saya akan memukul dari sini.” Sang ayah akan berkata, “Baik kalau begitu, lakukan!” Sang ayah tidak berusaha untuk membetulkan posisi tangan, memberitahukan cara berdiri, dsb. Sang ayah mengerti dalam usia yang masih muda, Wood tidak akan mengerti juga apabila diberitahu bagaimana harus memukul menurut teori golf yang ada. Ayahnya membuat permainan tetap sederhana dengan membebaskan Wood menemukan bentuk pukulannya.
Kebiasaan ini juga terkadang terbawa sampai sekarang. Pada saat bertanding di suatu turnamen, Wood tidak lagi memusingkan posisi tangannya, cara berdiri, dsb (Btw, ternyata golf tidak semudah yang saya bayangkan. Pada waktu pertama kali mencoba, ternyata banyak hal yang harus diperhatikan: tangan kiri yang jadi poros harus tetap lurus, poros badan tidak boleh bergeser. Wah, ribet juga ternyata..haha. Tapi, seharusnya, saya ikuti nasehat Wood: pukul saja!). Yang difokuskan dalam pikirannya hanyalah untuk memasukkan bola. Yang lucu adalah para komentator yang biasanya sibuk untuk membuat teori mengenai pukulan yang dibuat Wood. Padahal, mungkin Wood hanya mengikuti instingnya dalam memukul bola.
Di departemen Teknik Industri Universitas Indonesia, tempat saya berkuliah dulu, di dinding-dindingnya dipasang kutipan-kutipan dari orang-orang terkenal. Salah satu yang saya masih ingat sampai sekarang adalah kutipan dari Leonardo da Vinci yaitu ”Simplicity is ultimate sophistication.” Saya jadi berpikir kenapa kutipan ini dipasang. Setelah dipikir-pikir, saya rasa saya temukan jawabannya. Kita, disadari maupun tidak disadari, seringkali membuat sesuatu hal menjadi lebih rumit dari yang sebenarnya. Contohnya, kalau kita baca jurnal ilmiah atau mendengar ceramah profesor-profesor, dijamin tidak banyak dari kita yang bisa mengerti isinya. Banyak istilah asing dan njelimet yang ajaib.
Saya jadi ingat dengan ucapan dari Hermawan Kartajaya (HK), atasan dan salah satu role model saya sewaktu masih bekerja di MarkPlus. Dalam seminar, HK sering bilang kalau dirinya tuh different dengan profesor-profesor marketing lainnya. Katanya, kalau profesor biasanya membuat sesuatu yang simple jadi ribet (supaya kelihatan lebih intelektual), dirinya melakukan sebaliknya yaitu membuat sesuatu yang rumit jadi simple. Itu juga alasannya kenapa HK selalu menampilka teorinya dalam bentuk model, supaya orang yang awam marketing sekalipun bisa mengerti.
Tidak cuman HK, Einstein pun menekankan pentingnya kesederhanaan. Einstein pernah bilang, “Everything should be made as simple as possible, but no simpler.” Makanya teori relativitas Einstein ditulis dengan simple banget (dan saya yakin banyak orang lebih ingat rumus ini daripada rumus Gaya Gerak Listrik…hahaha) yaitu E=MC2.
Di dunia bisnis, kesederhanaan juga ternyata makin penting. Contohnya, sekarang ada peraturan baru dimana surat perjanjian seperti permohonan kartu kredit atau asuransi harus dibuat se-simple mungkin. Kalau dulu, surat perjanjian semacam ini bisa sampai berlembar-lembar, sekarang dibuat maksimal hanya 2-3 lembar. Tujuannya jelas untuk menghindari kebingungan konsumen. Contoh lainnya adalah Iphone. Menurut saya, salah satu letak kekuatan produk-produk keluaran Apple adalah dari desainnya yang simple, minimalis tapi tetap elegan.
Alkisah, pada waktu era perang bintang (bukan Star Wars tapi yak…Haha), AS dan Uni Soviet (Rusia) bersaing ketat untuk menjadi yang terbaik dalam teknologi antariksa. Ternyata, mereka sama-sama menemukan masalah dimana para astronot dan kosmonot mereka tidak dapat menulis dengan pena di pesawat luar angkasa karena tidak adanya gaya gravitasi. Para ilmuwan AS mengeluarkan berjuta-juta dollar sampai akhirnya berhasil menemukan tinta khusus yang bisa digunakan di luar angkasa. Lalu bagaimana dengan ilmuwan Uni Soviet? Ternyata, mereka punya solusi yang sederhana yaitu pakai pensil! So, apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini? Hm, hanya satu: Keep It Simple Stupid!
Rich Dad, Poor Dad
Pada tahun 2000, Robert Kiyosaki menerbitkan bukunya yang menjadi best seller dan sempat dijadikan “kitab suci” untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia MLM. Buku tersebut berjudul “Rich Dad, Poor Dad”. Buku ini pada intinya membahas bagaimana pentingnya seseorang untuk “melek finansial” selain dibahas juga tips dan trik dalam berinvestasi. Saya sendiri sudah membaca buku ini pada waktu saya kelas 1 SMA. Pada waktu itu, sedang berkembang model bisnis jaringan atau MLM. Dalam buku ini, Kiyosaki membandingkan prinsip financial dari dua ayahnya: yang pertama adalah ayah biologisnya – sebagai Poor Dad, dan satu lagi ayah dari teman baiknya – sebagai Rich Dad.
Apa perbedaan di antara keduanya? Secara ringkas, sosok Poor Dad mewakili karakter orang yang terdidik, tapi kurang memiliki “pengetahuan jalanan”, termasuk dalam hal ini pengetahuan finansial yang praktis. Sedangkan, sosok Rich Dad mewakili karakter orang yang mungkin kurang memiliki pengalaman studi formal sebagus Poor Dad, tapi memiliki lebih pintar dalam hal “pengetahuan jalanan”, dalam hal ini lebih “melek finansial” .
Saya jadi teringat, pada waktu di kampus dulu, pernah ikut seminar kewirausahaan dimana salah satu pembicaranya adalah Bob Sadino. Buat yang belum familiar dengan nama ini, Bob Sadino adalah pendiri dan pemilik dari Kemchicks, supermarket pertama di Kemang khusus menjual produk impor dengan konsumennya para ekspatriat di Jakarta. Bob Sadino dengan gayanya yang sedikit nyeleneh (kemana-mana selalu pakai celana pendek!) selalu bilang, “Buat apa sekolah?! Kalau mau kaya, gak perlu sekolah!”
Tentu saja, ucapan Bob Sadino ini seringkali disalahartikan oleh pendengarnya. Tapi, saya cukup setuju dengan argumen dari ucapannya ini. Dia bilang kalo orang yang sekolahnya tinggi, biasanya terlalu teoritis dan banyak perhitungan. Sibuk analisa sana-sini tapi jarang berani untuk mengeksekusi idenya. Karena orang seperti ini, takut untuk mengambil resiko. Beda dengan ”orang bodoh”, mereka biasanya lebih bonek. Hahaha…Selain itu, mereka juga lebih kreatif dalam menelurkan ide-ide bisnis. (Untuk buku lokal yang membahas kewirausahaan, saya bisa rekomendasikan buku-buku karangan Ippho Santosa. Saya sudah baca tiga bukunya, dari yang berjudul 10 Jurus Terlarang, 13 Wasiat Terlarang dan Marketing is Bullshit. Isi ketiga buku ini kurang lebih sama, jadi kalau anda tidak mau rugi, saya sarankan untuk membeli buku 13 Wasiat Terlarang saja. Ciri khas buku Ippho adalah penuh dengan cerita pebisnis sukses, bahasanya ringan dan mudah dimengerti juga).
Kembali ke buku Rich Dad, Poor Dad, ada salah satu bagian yang saya ingin share lebih dalam dalam tulisan ini yaitu pada Bab 9: Getting Started (Untuk lebih lengkapnya, buku ini bisa dengan mudah didapatkan di toko buku, atau kalau ingin lebih praktis, bisa unduh ringkasan buku ini di WikiSummaries). Dalam bab ini, Kiyosaki membagikan tipsnya dalam usaha membangun aspek finansial, yaitu:
- Find a reason greater than reality to motivate you. Maksudnya adalah, kita perlu untuk menemukan dan menentukan apa yang menjadi tujuan hidup kita.
- Feed the mind. Kita harus rajin untuk memberi “nutrisi baik” ke pikiran kita. Dengan cara ini, kita akan memilki banyak ide dan opsi-opsi yang sangat berguna di dalam dunia bisnis.
- Choose friends carefully. Kiyosaki menekankan pentingnya untuk belajar dari teman-teman yang mampu memberikan pengaruh positif.
- Pay yourselff first. Hal ini yang mungkin seringkali lupa dilakukan oleh banyak orang. Mulailah belajar untuk mengapresiasi diri anda sendiri.
- Being generous. Untuk menjadi kaya, justru kita harus belajar untuk murah hati. Kiyosaki memberi contoh, dengan kita memberikan tips kepada broker yang sudah membantu menjual properti yang kita miliki, kita sesungguhnya telah menjadikan broker kita sebagai ”sekutu” kita yang akan membantu menjadi ”mata dan telinga” kita di pasar.
- Having heroes. Temukan orang yang dapat menjadi mentor anda. Dengan memiliki role model, kita juga akan menjadi lebih termotivasi, ”Jika mereka bisa, mengapa kita tidak?”
CARPE DIEM
Saya menemukan sebuah kutipan dari Mark Twain tentang pentingnya memegang kesempatan. Kutipan itu berbunyi, “Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” Iseng-iseng, saya menaruh kutipan ini di status Facebook saya. Tidak disangka, teman saya sewaktu masih bekerja di MarkPlus memberi comment yang singkat tapi cukup membuat saya penasaran untuk mencari tahu artinya yaitu “Seize the day! Carpe Diem!” Karena penasaran, saya coba cari di google arti dari frase terakhir.
Saya berhasil menemukan terjemahan dari bahasa latin ini di Wikipedia. Carpe diem adalah sebuah frase yang berasal dari puisi latin yang ditulis oleh Horace yang bunyi lengkapnya adalah, “Carpe diem quam minimum credula postero” yang artinya adalah “”seize the day and place no trust in tomorrow”. Kutipan puisi ini mencoba untuk mengingatkan pentingnya untuk menggunakan kesempatan hari ini karena kita tidak tahu apakah masih punya kesempatan besok.
ALASAN-ALASAN PENUNDAAN
Penundaan adalah salah satu kebiasaan buruk yang banyak diidap oleh banyak orang (bahkan di Facebook, saya pernah menemukan grup “Procrastination” – dan grup ini memiliki hampir 1000 anggota!). Kenapa kita suka menunda suatu pekerjaan? Saya pernah baca sebuah buku yang saya pinjam di perpustakaan gereja mengenai masalah penundaan ini. Sudah agak lama sejak saya membacanya tapi kurang lebih saya masih ingat isi buku ini. Menurut buku ini dan sumber lainnya, penundaan, pada intinya, dapat disebabkan oleh:
Pertama, adalah rasa malas. Karena tidak ada suatu batas waktu yang mengikat, kita menunda melakukannya.Bisa juga karena kita harus mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak kita sukai.
Kedua, takut mengambil resiko seperti yang dikatakan dalam kutipan Mark Twain di atas. Tidak jarang penundaan dikarenakan hal ini. Contohnya, seorang pemuda yang menunda untuk “pdkt” dengan gadis incarannya karena takut ditolak. Bisa ditebak, orang seperti ini akan terus jomblo untuk waktu lama sementara si gadis jadi milik orang lain.
Ketiga, orang-orang yang suka menunda memilki berpikir masih ada kesempatan di esok hari. Alasan ini juga cukup banyak digunakan. Contohnya, adalah dalam pelayanan. Banyak orang yang berpikir baru akan terlibat di dalam pelayanan pada waktu sudah “mapan”. Akhirnya setelah mapan pun tetap tidak bisa melayani karena sudah tua, tidak bertenaga, dan malahan sakit-sakitan.
Pada waktu masa orientasi mahasiswa di kampus, ada satu sesi mengenai time management. Sebagai seorang mahasiswa baru, kami dirasa perlu untuk beradaptasi dengan kehidupan sebagai mahasiswa. Salah satunya adalah dalam hal menggunakan “kebebasan” waktu yang kami miliki. Kalau dulu di SMA, kami harus mengikuti segala jadwal yang ada, sekarang kami lebih bebas mengatur waktu kami.
Dalam sesi ini, dijelaskan pada intinya time management berbicara mengenai apa yang penting dan apa yang mendesak. Apabila dijabarkan dalam suatu matriks, akan diperoleh hubungan:
• Ada kegiatan yang penting dan mendesak.
• Ada kegiatan yang penting dan tidak mendesak.
• Ada kegiatan yang tidak penting dan mendesak.
• Ada kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak.
Yang terjadi adalah banyak dari kita yang suka menunda melakukan “kegiatan yang penting dan tidak mendesak”. Apa contohnya? Contohnya adalah olahraga. Kita semua tahu olah raga tuh bagus banget dan banyak manfaatnya buat kesehatan kita, tapi kita suka menundanya sampai akhirnya penyakit mulai berdatangan atau kita baru menyadari celana jeans kita sudah tidak muat lagi. Contoh lainnya, adalah kebiasaan mahasiswa (golongan deadliners..haha) untuk mengerjakan tugas atau belajar untuk kuis atau ujian mendekati waktunya (menurut pengakuan beberapa teman yang masuk dalam golongan ini, kondisi terdesak membantu meningkatkan adrenalin mereka sehingga mampu menyerap pelajaran dengan cepat – omong-omong saya tidak tahu dari mana teori ini dan tidak yakin dengan keabsahan korelasi antara endorfin dengan kemampuan otak menyerap pelajaran..hahaha)
Kita perlu mengenali apa alasan kita menunda suatu pekerjaan? Apa karena ada pekerjaan lain yang lebih penting untuk dilakukan? Atau karena kita malas melakukannya?
KERUGIAN DARI PENUNDAAN
Saya pernah baca kalau kita menunda suatu pekerjaan ada beberapa kerugian yang sebenarnya kita dapatkan, di antaranya adalah:
Pertama, pekerjaan yang ditunda akan menjadi beban pikiran kita. Contohnya, saya mengusahakan untuk menyelesaikan tugas mengedit artikel untuk Warta Sejati di Minggu pagi. Setelah artikel ini selesai, saya dapat lebih tenang untuk melakukan aktivitas lainnya seperti pergi ke perpus atau nge-gym tanpa ada perasaaan masih dihantui oleh ”utang” yang harus saya lunaskan.
Kedua, teman saya pernah bilang kalau pekerjaan yang ditunda itu akan ”berbunga”. Artinya, penundaan mengerjakan suatu tugas seringkali menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya menjadi lebih lama. Saya merasa sekali pada waktu harus mengedit suatu tulisan, karena saya menunda menyelesaikan, saya harus habiskan waktu lebih lama untuk mengecek dari awal tulisan karena saya tidak ingat bagian-bagian mana yang sudah dicek.
Ketiga, pekerjaan yang ditunda-tunda dapat menjadi penghalang kita untuk mengerjakan pekerjaan lain atau bahkan mengambil kesempatan baik. Contohnya, kita menunda menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya dapat kita kerjakan di hari Jumat siang. Ternyata, pada Jumat sore, kita mendapatkan undangan untuk menghadiri acara dari kolega kita. Akibatnya, kita tidak dapat mengikuti acara tersebut karena harus lembur.
Keempat, penundaan membuat kita kehilangan ”momentum”. Saya pernah membaca ternyata suatu ide bisnis yang brilian seringkali bukan suatu hal yang sama sekali bari. Ide ini mungkin sudah banyak orang yang memikirkannya, tapi hanya sedikit orang yang berani untuk benar-benar mewujudkannya. Sisanya adalah orang yang menunda mengeksekusi ide ini karena menunggu ”waktu baik”. Penulis Amsal berkata bahwa orang pemalas punya alasan-alasan yang seringkali tidak masuk akal untuk menghentikan penundaannya: ” Si pemalas berkata: ’Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.’” (Amsal 22:13).
TIPS MENGATASI PENUNDAAN
Saya ingin membagikan beberapa tips bagaimana caranya untuk mengurangi kebiasaan menunda (yang masih saya belajar untuk terapkan juga..hehe).
Pertama, mengutip dari buku ”The 7 Habits of Highly Effective People” nya Stephen R Covey yaitu Put First Things First , sempatkan untuk membuat rencana harian mengenai apa-apa yang harus anda lakukan. Dari daftar ini, urutkan pekerjaan yang harus dilakukan berdasarkan skala prioritasnya. Biasanya orang lebih suka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mudah walaupun bukan suatu yang penting dan mendesak. Biasanya dikarenakan untuk mendapatkan rasa pencapaian karena sudah mengerjakan banyak pekerjaan. Ubah kebiasaan ini, lakukan apa yang benar-benar penting. Jangan sampai kita kehabisan waktu untuk mengerjakan apa yang benar-benar penting.
Kedua, tetapkan batas waktu atau deadline. Yang sulit adalah kalau pekerjaan yang kita tunda adalah pekerjaan yang tidak perlu kita pertanggungjawabkan kepada orang lain. Biasanya kita akan lebih toleran terhadap diri kita. Contohnya ya untuk disiplin berolahraga. Kalau kita bolos untuk nge-gym, tidak akan ada yang memarahi kita karena pertanggungjawabannya adalah ke diri kita sendiri. Saya baru baca di Men’s Health terbaru, di situ ada artikel mengenai tips-tips untuk tetap termotivasi pergi ke gym. Salah satu ide yang saya suka adalah ide untuk ”menantang” orang lain. Misalkan, kita menantang teman kita untuk menurunkan berat badan dan yang kalah harus mentraktir yang menang. Dengan cara ini, kita akan lebih termotivasi dan secara otomatis akan mengurangi penundaan.
Cara lainnya adalah dengan memberitahukan deadline anda kepada orang lain. Misalnya, setiap minggunya, saya akan membuat minimal satu tulisan. Akan lebih baik kalau orang yang anda beri tahu adalah orang yang anda ”takuti” atau ”orang-yang-akan-membuat-anda-merasa-malu-apabila-tidak-berhasil-menepati-janji-anda”
Ketiga, sadari tidak pernah ada ”waktu ideal” dan jangan takut gagal, berani untuk ambil resiko. C.S Lewis penulis The Chronicles of Narnia, pernah mendapatkan kritikan untuk buku pertamanya dari J.R Tolkien, penulis buku The Lord of The Ring. Tapi, kita bisa lihat C.S Lewis tidak mundur dan tetap menulis sehingga lahirlah 6 buku lainnya.
Kenichi Ohmae, seorang ahli corporate strategy terkemuka, pernah mengatakan, ”…sometimes it’s better to do something that’s almost right rather than wait for the perfect solution and miss the strategic opportunity”. Jadi, moral of the story dari poin ini adalah jangan menunda melakukan sesuatu karena terlalu takut gagal. Tentu saja, sebelum terjun ke sebuah kolam, harus diukur terlebih dahulu airnya, tapi jangan kelamaan!
So, semoga tips-tips di atas bisa membantu untuk mengatasi penundaan. Jangan sampai ada suatu penyesalan karena kita terus menunda melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Saya sendiri masih belajar terus untuk mengatasi penundaan dan menjadi orang yang lebih efektif lagi…hehe (Btw, hampir saja saya menunda untuk membuat tulisan ini…hahaha)
Cogito ergo Sum
Ada sebuah ungkapan terkenal yang pernah diucapkan oleh Descartes, seorang filsuf Perancis yaitu “Cogito ergo Sum” yang artinya kurang lebih adalah “Aku berpikir maka aku ada”.
Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang teristimewa dikarunai kemampuan berpikir yang sekaligus membedakannya dengan ciptaan lainnya. Menarik untuk menyimak dari sejarah mengenai bagaimana kemampuan berpikir manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Pengetahuan semakin bertambah dan apa yang dahulu dianggap mustahil untuk dilakukan, sekarang dapat dilakukan.
“The Gang of Three”
Ada beberapa tokoh yang dikenal sebagai pemikir di zamannya. Beberapa yang terkenal adalah tiga tokoh yang dikenal dengan sebutan “The Gang of Three” yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat (Western Mind). Socrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari “kebenaran” dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran ”kategoris” dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.
Setelah era “The Gang of Three”, kemampuan dan proses berpikir manusia juga semakin berkembang. Di abad milenia ini, kita juga semakin akrab dengan berbagai konsep berpikir yang bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan pikir manusia seperti Mind Map-nya Tony Buzan, Parallel Thinking-nya Edward de Bono, dsb. Dengan memahami berbagai konsep berpikir ini, kita dapat lebih lagi mengoptimalkan kemampuan berpikir kita.
Sistem Pendidikan di Negara Kita
Sekolah adalah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu kita di dalam mengembangkan kemampuan nalar. Namun sayang sekali, sistem pendidikan di negara kita masih jauh dari kata ideal. Sistem pendidikan yang ada kurang mendorong siswanya untuk dapat aktif berpikir. Siswa hanya diharapkan untuk menghafal berbagai pelajaran tanpa mengerti konsep dasar dan manfaat dari ilmu yang dia pelajari. Kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif seolah dikekang dengan sistem yang ada. Siswa yang kritis dan kreatif malahan sering dianggap sebagai siswa yang ”bandel”.
Coba kalau kita disuruh menggambar pemandangan. Mungkin 80% dari kita akan menggambar sawah dengan dua gunung dan matahari di balik gunung lalu ditambah dengan burung. Apa anda menggambar seperti ini? Hahaha…
Walaupun demikian, saat ini sudah mulai banyak sekolah yang menerapkan sistem pengajaran yang berbeda. Sekolah-sekolah ini berusaha untuk mengakomodasi bakat unik tiap anak agar dapat berkembang dengan semaksimal mungkin. Sayangnya, sekolah-sekolah ini hanya dapat dinikmati oleh orang-orang tertentu saja mengingat biaya untuk menghasilkan pendidikan berkualitas yang tidak murah.
Dosen saya saat di Teknik Industri UI pernah berkata kalau pendidikan adalah kunci untuk lepas dari perangkap kemiskinan (poverty trap). Sudah seharusnya pemerintah menjadikan sektor pendidikan ini sebagai prioritas utama dalam memecahkan masalah kemiskinan. Karena dapat dikatakan masalah kemiskinan ini adalah sumber pencetus munculnya masalah-masalah sosial lainnya.
Budaya Membaca di Negara Kita
Terkait dengan proses berpikir, menurut saya, budaya membaca suatu negara sedikit banyak dapat menggambarkan tingkat kematangan berpikir suatu bangsa. Kita dapat melihat negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa memiliki budaya baca yang kuat. Kalau kita berkunjung ke negara-negara ini, dengan mudahnya kita dapat menemukan fasilitas perpustakaan publik. Bagaimana dengan Indonesia? Perpustakaan publik yang pernah saya kunjungi paling hanya Perpustakaan Nasional di Salemba dan saya merasa fasilitas yang ada masih sangatlah kurang. Apabila kita berkunjung ke sana, suasananya sangat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa atau pelajar yang mencari referensi untuk skripsi atau tugas sekolahnya.
Kondisi serupa juga hampir saya temui di kampus UI, di perpustakaan Fakultas Teknik. Kampus yang notabene adalah tempat para intelektual muda menuntut ilmu, minat baca juga saya temukan sangatlah kurang. Mahasiswanya lebih senang menghabiskan waktu di kantin daripada menggali ilmu di perpustakaan.
Hal ini jugalah yang membuat, menurut saya, negara kita sulit untuk menjadi negara yang maju dikarenakan budaya membaca yang masih sangat kurang. Masyarakat kita lebih suka berkomunikasi secara verbal dibandingkan literal. Makanya tidak heran kalau perguruan tinggi negeri kita seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung sulit untuk bersaing dengan universitas di luar negeri. Mahasiswa kita tidak biasa untuk membaca jurnal dan buku referensi. Tidak terbiasa untuk melakukan riset. Tidak terbiasa untuk membuat suatu makalah dan karya tulis.
Masyarakat kita pun masih menganggap buku sebagai kebutuh tersier (atau bahkan kuartier..Haha). Buku masih dianggap sebagai sesuatu yang mahal. Urusan perut lebih penting daripada menambah pengetahuan. Untuk beli buku bagus seharga Rp.120.000 rasanya tidak rela; tapi kalau untuk beli pakaian atau makan di restoran all-you-can-eat, tidak merasa rugi.
Saya pernah membaca suatu kutipan yang berbunyi kalau akan menjadi apa diri kita di esok hari, ditentukan oleh apa yang kita baca hari ini. Kalau kita melihat kisah hidup dari orang-orang besar, kita akan menemukan suatu kesamaan di antara mereka yaitu kebiasaan membaca yang kuat. Soekarno terbiasa membaca 5 buku secara sekaligus dalam satu waktu. Buku-buku bisa ditemukan di segala pojok rumahnya, sampai di kamar mandi pun ada rak buku khusus. Soe Hok Gie, juga sedari muda sudah membaca karya sastrawan dunia seperti Leo Tolstoy yang akhirnya membentuk Gie menjadi pemuda dengan pemikiran kritis dan tajam (bahkan katanya Gie suka tidak bayar uang bus demi bisa membeli koran). Boediono, calon (dan sepertinya akan jadi) wakil presiden dari pasangan SBY, semasa mengambil kuliah doktor di Wharton, juga suka ”ngamen” untuk mendapatkan uang saku dan beli buku!
Tayangan Televisi di Negara Kita
Tayangan televisi di negara kita juga sangat memprihatinkan. Kita dijejali tayangan-tayangan yang sebenarnya membodohkan masyarakat (sadar atau tidak sadar) seperti tayangan gosip, mistis, seks, dsb. Sangat sedikit tayangan mendidik yang bisa dinikmati. Dalam survei yang saya baca di Kompas Minggu di Perpustakaan Tembagapura, tentang tayangan televisi terburuk dan terbaik diperoleh hasil: untuk tayangan terbaik adalah Kick Andy (salah satu acara favorit saya :p), Bocah Petualang (Bolang), dsb; untuk tayangan terburuk antara lain Suami-suami Takut Istri, Termehek-mehek, dsb. Dan bisa ditebak, masyarakat kita lebih menggemari tayangan-tayangan yang masuk dalam kategori kedua.
Kesimpulan
Apa tujuan saya untuk menulis tulisan ini? Saya berpikir (maka saya ada – Hehe) bangsa kita, secara kolektif, tidak akan pernah dapat bersaing dengan bangsa lain apabila kita tidak mengubah ”budaya” kita yang masih kurang baik ini.
Apalagi di era borderless world seperti saat ini (Thomas L Friedman pernah menulis buku best seller mengenai hal ini – The World is Flat dan kemudian dilanjutkan dengan buku terbarunya Hot, Flat and Crowded), persaingan akan semakin ketat dan bila kita tidak rajin meng-upgrade diri kita, kita akan terlindas dan kalah di rumah kita sendiri.
Saya suka dengan suatu kutipan (One of my hobbies is collecting quotes :p) yang berbunyi:
”Untuk mengubah negara anda, ubahlah masyarakat anda;
Untuk mengubah masyarakat anda, ubahlah keluarga anda;
Untuk mengubah keluarga anda, ubahlah diri anda”
Sebagai penutup, saya ingin bagikan tips untuk meningkatkan kemampuan berpikir yang saya dapatkan dari artike dengan judul ”Cognitive Fitness” di Harvard Business Review yaitu:
1. Manage by walking about – berjalan dapat membantu menyeimbangkan otak kanan dan kiri
2. Read funny books – tubuh (dan otak) kita bisa lebih sehat dengan tertawa
3. Play games – memainkan permainan seperti sudoku dan catur bisa membantu untuk men-challenge otak kita tetap aktif
4. Act out – coba cara-cara baru untuk melakukan sesuatu
5. Find what you’re not learning – coba hal-hal baru
6. Get the most out of business trips – pada saat traveling, otak kita akan dipaksa untuk tetap aktif dan fokus (minimal supaya gak nyasar juga toh..haha)
7. Take notes- and then go back and read them – catat ide-ide yang terpikir (saya mulai menerapkan hal ini untuk mencatat ide-ide yang muncul sebagai bahan untuk tulisan di blog ini)
8. Try new technologies – mencoba teknologi baru akan menstimulasi panca indera kita
9. Learn a new language and instruments – poin ini sudah jelas sekali
10. Exercise, exercise, exercise – otak kita merupakan bagian dari sistem tubuh kita, jadi otak kita akan mendapatkan manfaat dari olah raga, tidur yang cukup dan nutrisi yang baik
A Class with Jacko…
Beberapa minggu yang lalu, dunia dikejutkan dengan berita meninggalnya Michael Jackson (MJ), sang King of Pop. MJ meninggal dalam usia 50 tahun di tengah persiapan konser come back nya setelah vakum hampir sepuluh tahun. Banyak orang yang terkejut dan tidak percaya dengan berita ini. Mendadak semua acara di TV menayangkan liputan khusus tentang dirinya, MTV pun memutar kembali video klip MJ sebagai tribute untuknya. Albumnya pun kembali dilirik orang dan laris bak donut JCO (hehe.. :p).
Di balik berita sedih ini, ternyata ada suatu ironi yang baru terungkap yang berasal dari pengakuan salah seorang sahabat MJ dimana semasa hidupnya, MJ merasa sangat kesepian. Seorang superstar dunia yang biasa dielu-elukan oleh jutaan penggemarnya pun bisa merasakan kesepian. Mungkin MJ mengalami post power syndrome. Memang semenjak mencuatnya kasus pelecehan anak ke permukaan, popularitas MJ perlahan-perlahan mulai tenggelam. Hal ini sepertinya mempengaruhi kesehatannya. MJ dikabarkan jadi tergantung kepada obat-obatan penenang, dan gagal jantung yang berujung kepada kematiannya pun diduga karena obat-obatan ini (Selain itu, dikabarkan juga MJ stres karena terlilit utang sampai Rp. 4 Triliun).
Terlepas dari segala kontroversinya, ada beberapa pelajaran yang bisa saya dapatkan dari sosok MJ ini:
# Pelajaran Pertama: Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama…
Minggu lalu, saya baru saja menghadiri dua acara perpisahan teman-teman saya yang akan kembali ke Jakarta. Di dalam acara perpisahan ini, setiap orang saling memberikan kesan dan pesannya kepada satu sama lain. Menarik juga mendengarkan kesan-kesan yang muncul. Ada kesan yang lucu, ada juga yang mengharukan. Sepulangnya dari acara ini, saya jadi membayangkan kesan seperti apa yang akan saya terima dari teman-teman pada saat acara perpisahan saya nantinya. Apa kesan yang baik atau kurang baik? Masih misteri…Hehe…
Saya jadi kembali berpikir nanti pasti akan tiba waktunya giliran saya buat check out dari dunia ini menuju rumah yang sesungguhnya (bakal panas atau dingin yak? Hehe..). Kira-kira, kesan seperti apa yang akan saya tinggalkan, apakah kesan yang baik atau kurang baik atau buruk sama sekali? Atau jangan-jangan, kalau orang menyebut nama saya, yang terbayang adalah hal-hal yang buruk dan dengan ”suksesnya” masuk ke dalam jajaran penyandang nama buruk seperti Jack the Ripper, Batousai si Pembantai, Tjok si Pembunuh-Berdarah-Hangat. Ih amit-amit… :p
Jadi keinget, kalau penulis Amsal pernah menulis di Kitab Amsal, ”Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari perak dan emas”. Hm, setuju banget sih. Contohnya, kalau di dunia bisnis, nama baik tuh penting banget. Kalau sekali nama baik kita rusak, orang-orang tidak akan percaya untuk berbisnis lagi dengan kita. Kalau sudah begitu, mana bisa kaya…hahaha :p
Kalau kita baca di koran atau majalah, gak jarang kita temukan banyak politikus yang diserang latar belakangnya oleh lawan politiknya. Mungkin pikir politikus itu, gak ada yang tahu apa yang saya lakukan di masa muda. Ternyata salah bung! Masa lalu itu ternyata bisa jadi batu sandungan. Oleh karena itu, selama kita hidup, apa yang kita perbuat atau katakan musti kudu hati-hati bener tuh.
Banyak orang yang bilang kalau waktu muda gak perlu-perlu banget serius jalanin hidup. Mumpung masih muda, lakuin apa yang dimauin. Hm, gak setuju juga sih dengan pandangan seperti ini. Pertama, kalau panjang umur mungkin masih ada kesempatan buat tobat, kalau pendek umur gimana bos? Kedua, di kitab Pengkotbah, Salomo (atau dikenal juga dengan Sulaiman) pernah nulis, ”Bersukarialah hai pemuda dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!”
Nah, jadi jangan dipikir kalau Tuhan hanya taken for granted saja. Tuhan dalam ke-MahaAdilan-Nya akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang semua kita lakukan. So, selama masih hidup, berusahalah untuk tinggalkan nama yang harum. Gak cuman di hadapan manusia, tapi terlebih lagi di hadapan Tuhan. Hal ini gak mudah karena kalau salah satunya mungkin lebih mudah (Saya masih belajar untuk lebih baik lagi untuk kedua hal ini..Hehe).
”Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi Allah dan manusia.”
# Pelajaran Kedua: Jangan tunda apa yang bisa dilakukan hari ini, besok mungkin terlambat…
Masih hidup dilupakan, sudah meninggal baru diingat. Begitulah kira-kira komentar dari banyak orang terhadap kematian sang superstar. Dari kisah MJ ini, saya diingatkan juga untuk tidak menunda melakukan apa yang bisa saya lakukan hari ini, khususnya dalam hal memberikan perhatian kepada orang lain: kepada keluarga, teman-teman, dan orang di sekitar saya. Hm, kadang kalau lagi capek suka malas untuk telepon orang rumah untuk sekadar say hello saja, sekarang mau coba untuk lebih sering lagi memberikan perhatian ke orang lain. Hehe…
Setelah belajar memberikan perhatian kepada orang yang ada di dekat kita, kita mungkin bisa ”naik kelas” untuk belajar memberikannya kepada orang yang kurang dekat dengan kita karena kita tidak pernah tahu siapa yang sangat membutuhkan perhatian kita. Siapa sangka MJ, dalam segala pencapaiannya, justru merasakan kehampaan di dalam hidupnya. Tidak hanya Jacko, saya yakin banyak orang yang merasakan hal serupa.
# Pelajaran Ketiga: Jangan buang keluarga anda sembarangan…
Segala ketenaran dan pencapaian yang kita dapatkan tidak dapat menggantikan arti keluarga dan sahabat. Ada orang yang kerja sekeras-kerasnya setiap hari sampai melupakan keluarganya. Orang ini berpikir apa yang dilakukannya ini toh juga untuk kepentingan keluarganya. Tapi ternyata keluarga kita tidak hanya butuh uang kita. Keluarga kita juga butuh perhatian dan komunikasi dengan kita.
Ada yang mengatakan kalau pada saat kita sedang sekarat menunggu ajal tiba di rumah sakit, keluarga adalah orang-orang yang paling setia untuk menemani kita. Bukan klien bisnis kita, bukan rekan kerja kita, bukan orang lain tapi keluarga kita. Tapi ironisnya, kita seringkali ”membuang” keluarga kita tanpa kita sadari.
Well, pelajaran-pelajaran di atas adalah hal-hal yang masih saya coba terus pelajari. Masih banyak PR yang harus dikerjakan dan ujian yang harus dilewati supaya bisa ”naik kelas”. Thank you MJ buat inspirasinya.