Usain Bolt, Ronaldinho, Susi Susanti

September 4, 2009 at 4:59 am (Uncategorized)

Usain Bolt, sprinter asal Jamaika, baru saja berhasil memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri di Kejuaraan Dunia Atletik di Berlin. Dia berhasil menajamkan rekor yang dibuatnya saat Olimpiade Beijing untuk lari 100 meter, dari 9,69 detik menjadi 9,58 detik. Selain itu, Bolt juta sukses memecahkan rekor di nomor 200 meter.

“Why do Jamaicans run so fast?” adalah judul film dokumenter yang sedang dibuat untuk menyelediki kenapa pelari asal Jamaika begitu menonjol di olahraga ini. Padahal dibandingkan dengan negara lain yang lebih besar seperti AS, Jamaika hanyalah negara kecil.

Ternyata salah satu jawaban terbesarnya adalah kompetisi di sekolah. Banyak anak di Jamaika yang harus berjalan jauh untuk berlatih dan bertanding di kompetisi antarsekolah. Kondisi ini yang kemudian berkontribusi melahirkan sprinter dunia macam Bolt, Asafa Powell, Ben Johnson, dsb.

Ronaldinho Gaucho, seperti kebanyakan anak kecil di Brasil, mengejar mimpinya untuk menjadi pesepakbola profesional. Memang bagi masyarakat Brasil, sepola sudah mendarah daging di dalam kehidupan mereka. Selain itu, sepabola adalah alat untuk mendapatkankesuksean, alat untuk lepas dari jerat kemiskinan. Maka tidak heran kalau kebanyakan pesepakbola top dari Brasil ini berasal dari kalangan menengah bawah, kecuali Kaka yang berasal dari kalangan menengah atas.

Apa yang menyebabkan orang Brasil begitu piawai memainkan si bola bundar? Apa mereka dikaruniai gen jenius sebagai pesepakbola andal seperti sang legenda Pele? Atau mereka memilki anatomi tubuh yang spesifik? Atau karena merka biasa menari Samba sehingga membantu mereka ‘menari’ di lapangan?

Medali emas pertama Indonesia di Olimpiade didapatkan dari cabang bulu tangkis. Di Olimpiade Barcelona, Susi Susanti berhasil menumbangkan lawannya dari Korea, Bang Soo-Hyun di final. Dan dua jam kemudian, tunangannya Alan Budi Kusuma berhasil meraih medali emas di tunggal putra.

Perjuangan Susi untuk menjadi juara olimpiade, kita tahu bersama, tidaklah mudah. Susi telah mengorbankan sebagian besar hidupnya dengan berlatih, berlatih dan berlatih. Dan hal ini dilakukannya dengan penuh disiplin dan konsistensi sejak usia yang masih sangat muda.

Apa yang bisa kita petik dari 3 cerita di atas? Walaupun kita bukanlah seorang olahragawan, tapi ada nilai positif yang bisa kita ambil yang pastinya akan berguna di dalam kehidupan kita.

Dari cerita mengenai Bolt, kita belajar pentingnya kompetisi. Kompetisi yang sehat sesungguhnya sangat penting untuk mengasah diri kita. Kompetisi akan memacu diri kita untuk menjadi lebih baik. Salah satu alasan saya memilih kuliah di Teknik Industri UI adalah karena saya tahu di tempat ini ada banyak orang yang lebih pintar dari saya. Karena itu, saya selalu terpacu untuk menjadi lebih baik lagi.

Dari cerita Ronaldinho, kita bisa lihat kadang kesusahan itu bisa jadi motivasi terbaik untuk kita maju. Saya pernah lihat sebuah buku mengenai kewirausahaan yang berjudul “The Power of Kepepet”. Kadang justru kesusahan (baca:kepepet) itu bisa berdampak baik untuk kita. Di Business Week, diceritakan ada seorang wanita yang membuka usaha (dan usahanya sukses) setelah sebelumnya dirinya dipecat oleh perusahaannya (karena dampak krisis global).

Dari cerita Susi Susanti, kita bisa belajar kalau tidak ada yang namanya kesuksesan instan. Harus ada proses jatuh bangun sebelumnya. Harus ada ‘harga’ yang dibayar untuk kesuksesan itu. Sayangnya kita di hidup di masa dimana serba instan. Semua orang mau sukses tapi maunya instan, belum lagi tidak mau bayar ‘harga’. Kita, sebagai generasi milenia, dianggap tidak se-tough orang tua kita, kita ‘lembek’. Hal ini yang harus mulai kita ubah: belajar untuk lebih disiplin, konsisten (di Koran Sindo kemarin, kutipannya kalau tidak salah, ‘orang yang sukses adalah orang yang menyelesaikan apa yang dimulainya), kerja keras dan nilai-nilai lainnya yang sebenarnya sudah kita tahu, tapi belum dilakukan!

Permalink 1 Komentar

Penyakit Apa yang Diderita oleh Esther dalam Film Orphan?

September 3, 2009 at 5:35 pm (Uncategorized)

Tadi siang, saya baru saja menonton film thriller Orphan. Saya berusaha untuk tidak memberikan spoiler terlalu banyak mengenai film itu. Oleh karena itu, bagi yang belum nonton, sebaiknya tidak melanjutkan membaca tulisan ini.

Saya sendiri sempat tidak sengaja mendengar spoiler film sebelum menontonnya, walaupun begitu, filmnya tetep seru untuk disimak dari awal sampai akhir. Ketegangan yang dibangun begitu terjaga sepanjang film.

Oke, jadi dalam film ini, diceritakan ternyata tokoh yang bernama Esther bukanlah anak kecil seperti yang terlihat. Secara fisik, Esther nampak seperti anak berumur 9 tahun, tapi dia sebenarnya sudah berusia 33 tahun.

Esther menderita suatu penyakit hormonal yang menyebabkan tubuhnya mengalami perlambatan. Karena penasaran dengan penyakit yang diderita Esther ini, saya mencoba googling dan menemukan beberapa situs yang ternyata membahas topik ini juga.

Ada dua situs yang membahas penyakit ini. Menurut situs tersebut, Esther menderita penyakit yang disebabkan kelainan pada Pituitary-nya. Sederhananya, pituitary ini adalah salah satu bagian di otak kita yang mengatur sekresi hormon di tubuh kita, dimana salah satunya hormon pertumbuhan. (Karena saya tidak memiliki kompetensi sama sekali di bidang kedokteran, saya tidak akan membahas jauh mengenai hal ini, buat teman-teman yang tertarik, bisa akses ke link berikut: http://www.pituitary.org/disorders/)

Situs kedua yang saya temukan mengatakan kalau penyakit Esther ini dikenal dengan nama sindrom Turner. Sindrom Turner disebabkan oleh kelainan pada kromosom dimana normalnya seorang wanita akan memiliki 2 kromosom X, pada penderita sindrom ini, hanya memiliki satu saja atau tidak berfungsi sempurna. Akibatnya, berpengaruh pada pertumbuhan tubuh (baca: jadi lebih pendek dari orang pada umumnya dan ada beberapa indikasi lain yang tidak mungkin dibahas semua dalam tulisan ini). Untuk teman-teman yang tertarik lebih jauh bisa lihat di link berikut:http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20090729005101AAyt1nu)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Stand Up, Speak Up

September 3, 2009 at 6:00 am (Uncategorized)

Kasus 1
VOC yang notabene adalah sebuah konglomerasi Belanda berhasil mengeruk keuntungan di Nusantara selama kurang lebih tiga setengah abad. Dari pelajaran Sejarah yang kita pelajari waktu sekolah, kita tahu kunci keberhasilan VOC sehingga mampu menancapkan kukunya begitu lama adalah politik adu domba atau dikenal juga dengan Devide et Impera. VOC berhasil memecah belah raja-raja di Nusantara sehingga tidak bersatu melawannya.

Kasus 2
Dalam sebuah poling yang dilakukan majalah remaja pria Hai beberapa waktu lalu, ditanyakan kepada responden yang adalah siswa SMA, apa kriteria yang mereka gunakan untuk memilih presiden? Hasilnya yang mengejutkan adalah mereka akan memilih presiden yang: keren (ini pemilihan presiden bos bukan idol..haha), memiliki pergaulan internasional yang luas (oke ini lebih mending dari yang pertama, tapi darimana bisa tahu? Dari jumlah friends di Facebook si capres?), dan alasan-alasan lainnya yang aneh bin ajaib seperti ikut-ikutan teman dan keluarga. Mungkin tidak sedikit dari kita yang seperti responden dalam poling tersebut pada waktu nyontreng pilpres kemarin. Pilih capres A karena gagah dan jago nyanyi serta bikin lagu (ini pasti pilhan ibu-ibu ^^), pilih capres B karena sama-sama dari kampung yang sama (dengan premis kalo capres ini terpilih, pasti kampungnya akan ikut makmur juga), atau pilih capres C karena katanya pembela wong cilik, dsb.

Kasus 3
Industri musik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak band-band atau penyanyi baru bermunculan, sebut saja yang cukup fenomenal yaitu almarhum Mbah Surip dengan lagu ”Tak Gendong” nya. Saya sendiri bingung dengan kesuksesan Mbah Surip ini. Dari segi lagu dan lain-lain biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Apa kesuksesannya dikarenakan strategi marketing yang jitu? Bisa jadi. Saya pikir tim marketing Mbah Surip mampu menciptakan buzz di masyarakat. Terlepas dari enak atau tidak lagunya, orang-orang jadi membicarakan keunikan Mbah Surip dan di sini peran media sangat kuat. Selain itu, saya melihat kesuksesan Mbah Surip juga dikarenakan karakteristik masyarakat kita yang mudah terpengaruh dengan pilihan orang banyak. Artinya, awalnya kita merasa lagu Mbah Surip tidak enak dan aneh, tapi karena banyak orang yang ‘suka’ dan sering membicarakannya, kita jadi ikut-ikutan ‘suka’.

Contoh lain adalah Kangen Band. Saya merasa lagu-lagu band ini cukup enak didengar tapi saya bingung kenapa banyak orang yang ‘menghujat’ band ini sebagai ‘band sampah’. Saya menduga sebenarnya banyak orang juga yang sebenarnya hanya ikut-ikutan tidak menyukai lagu-lagu band ini karena malu dianggap memiliki selera musik yang ‘rendah’.

Kasus 4
Seminggu terakhir ini, saya melihat banyak orang yang tiba-tiba menjadi ’heroik’ dengan ’menghujat’ negara tetangga yang dianggap sudah mencuri budaya bangsa kita. Mereka menunjukkan rasa nasionalisme mereka dengan memasang status ’perjuangan’ di Facebook atau Twitter.

Pertanyaannya adalah apakah orang-orang itu benar-benar peduli dengan budaya mereka sendiri? Apa mereka suka pakai batik (sebelum sepopuler sekarang)? Apa mereka menyempatkan diri untuk nonton tarian pendet saat liburan ke Bali? Atau Reog Ponorogo saat liburan ke Ponorogo? Tanpa bermaksud untuk menuduh mereka memasang status itu hanya biar ikutan eksis, saya pikir mereka semua cinta produk dan budaya Indonesia (hahahaha…LOL).

Kasus 5
Semua bule yang datang ke Jakarta dibuat terheran-heran waktu keliling kota ini, apalagi kalau diajak ke mall seperti Grand Indonesia atau Pacific Place. Mereka heran karena yang mereka tahu negara kita itu negara dengan banyak utang. Walaupun ’miskin’, ternyata kalau dalam urusan barang-barang mewah, orang kita tidak ketinggalan. Bahkan, kalau tidak salah, produsen smart phone dunia sengaja memilih Jakarta sebagai tempat launching pertama produknya di seluruh dunia. Luar biasa!!

Sekarang tidak aneh kalau kita lihat orang-orang yang menenteng blackberry atau iphone. Dan bisa ditebak, lebih kebanyakan pemilik gadget ini membeli bukan karena membutuhkan fungsinya tapi biar kelihatan trendi!! Dari sekian banyak fitur yang ada, yang dipakai cuman BBM atau Facebook…Hahaha…

Dari kelima kasus di atas, apa yang ingin saya coba bagikan? Dari kelima kasus di atas, kita dapat melihat salah satu karakteristik masyarakat kita (ini pendapat pribadi, bukan seorang antropolog…^^) yaitu mudah untuk dipengaruhi oleh opini publik.

Boleh setuju atau tidak dengan pendapat ini. Dalam salah satu wawancaranya, Sri Mulyani juga pernah mengungkapkan pendapat yang kurang lebih sama. Dia berpendapat masyarakat kita sebetulnya mudah dimotivasi (baca: dipengaruhi), mudah tersentuh, tapi kurang dapat bertahan (baca: persistence) dalam mengerjakan sesuatu.

Kenapa bisa begitu? Ada banyak sebab. Pertama, bisa jadi karena tidak mau terlihat berbeda dengan orang lain. Contohnya adalah kalau teman-teman kerja kita biasa pulang tenggo, kita juga ikutan karena takut dicap ’cari muka’. Saya gak tahu apa hal ini ada hubungannya dengan sistem demokrasi yang dianut bangsa ini dimana majority wins (jadi biar gak jadi pihak yang ’kalah’ mendingan ikut suara mayoritas).

Kedua, untuk menghindari konflik. Dalam rapat atau kesempatan diskusi baik di kampus maupun di tempat kerja, kita seringkali menjumpai banyak ’Yes Man’. Kalau ditanya pendapatnya, selalu bilangnya pendapat anda lebih baik, kita jalani pendapat anda. Beda dengan orang bule atau India, yang biasanya kekeuh sama pendapatnya (walaupun salah..haha).

Ketiga, sistem pendidikan kita tidak mengakomodasi para siswanya untuk berpikir kreatif (baca: beda). Kalau disuruh gambar pemandangan, harus ada dua gunung, sawah, lengkap dengan matahari dan burung! Haha…Kalau gambarnya beda, nilainya bisa dikorting. Akibatnya, biar aman, para siswa kita jadi malas berpikir dan takut salah. Dalam artikel di Harvard Business Review, dibahas mengenai kenapa orang yang tinggal di Iceland bisa memiliki nilai tertinggi dalam survei kebahagiaan? Padahal mereka tinggal di tempat yang mungkin hanya setengah tahun sekali siang (dapet cahaya matahari). Ternyata salah satu kuncinya adalah orang-orang Iceland ini tidak mengenal konsep ’salah’ atau ’tidak cukup bagus’. Akibatnya, mereka jadi berani berbuat sesuatu tanpa takut salah.

Keempat, masih berhubungan dengan sistem pendidikan kita, adalah kita tidak diajarkan untuk berpikir kritis. Jadi jangankan untuk berargumen dengan guru kita, untuk bertanya saja kita sudah malas. Sejarah membuktikan tidak mudah menjadi orang yang kritis. Contohnya Martin Luther King yang dengan berani mengkritik otoritas gereja Katolik. Dan kita semua tahu, tekanan seperti apa yang harus ditanggungnya.

Dari pembahasan di atas, apa sesungguhnya yang ingin coba saya sampaikan? Saya berpikir kita harus mulai mengembangkan sikap berpikir yang kritis dan juga rasional. Memang tidak mudah. Sementara mayoritas mengatakan A, kalau kita pikir itu salah dan bertentangan dengan hati nurani kita, kita harus mengatakan pendapat kita. Kita harus berani untuk bersikap (dan siap dengan resiko yang menyertainya). Soe Hok Gie pernah berkata, ”Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.” Anda setuju?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

You are what you wear

September 2, 2009 at 10:28 am (Uncategorized)

“You are what you wear”. Banyak dari kita yang pasti pernah mendengar ungkapan ini. Busana telah berevolusi dari fungsi dasarnya sebagai penutup tubuh. Busana pada saat ini telah jauh berkembang fungsinya.

Evolusi Busana
Busana sebagai salah satu penanda dari identitas seseorang. Dari busana yang dikenakannya, kita bisa menebak apa profesi atau status sosial seseorang. Contoh paling gampang adalah seragam. Dari seragam, kita bisa tahu apa orang itu bekerja sebagai petugas kebersihan taman kota, penjaga loket busway atau polisi.

Busana sebagai alat aktualisasi diri. Kemarin malam, di O Channel, ada dibahas soal salah satu komunitas pecinta Cosplay di Jakarta. Buat yang belum tahu, cosplay ini adalah istilah untuk kegiatan dimana orang-orang membuat dan memakai kostum tokoh anime kesayangannya. Tidak sedikit orang yang menganggap aneh orang-orang yang menggemari cosplay ini. Karena memang biasanya busana yang dipakai itu rada ”ajaib”. Tapi bagi pecinta cosplay, cosplay adalah sarana untuk merasakan (baca: aktualisasi) menjadi tokoh anime kesayangannya.

Busana sebagai alat penunjang dalam pekerjaan kita. Dalam salah satu seminar James Gwee yang saya ikuti minggu lalu, salah satu tips yang dibagikannya untuk dapat sukses di pekerjaan adalah masalah kita berbusana. Menurut dia, tidak bisa dibohongi kalau orang lain pasti pertama kali melihat tampak luar kita. Dia memberikan contoh bagaimana orang mau percaya untuk menginvestasikan uangnya kepada kita kalau dia melihat kita tidak mampu mengurus diri kita sendiri. Saya pikir poin James ini valid. Saya merasakan sendiri di pekerjaan saat ini sebagai seorang konsultan, kita diharuskan untuk berbusana sebaik mungkin karena hal itu penting dalam menunjang kredibilitas kita di mata klien.

Memang ada beberapa profesi tertentu yang menekankan lebih pentingnya penampilan, biasanya pekerjaan yang banyak berinteraksi dengan orang seperti pekerja di bidang PR, artis, presenter, dsb. Walaupun pekerjaan kita tidak memiliki intensitas yang tinggi untuk berinteraksi dengan orang banyak, tetap saja kita perlu memperhatikan apa yang kita kenakan.

Selamat Tinggal Marlboro Man
Yang menarik diperhatikan, dalam beberapa tahun terakhir ini, telah terjadi pergeseran gaya berbusana pria perkotaan. Sekarang sudah bukan eranya lagi ”Marlboro Man”, sekarang adalah eranya cowok-cowok cantik ala ”BBF” (no offense girls!! Hahaha…LOL). ”Marlboro Man” mewakili image cowok macho, agak urakan dan liar sudah tidak digemari oleh para wanita (dan pria!!). Sebaliknya ”BBF Boy” mewakili image cowok pesolek dengan muka mulus tanpa jerawat sedikit pun, rambut selalu tertata rapi walaupun ditiup kipas angin sekalipun..Hahaha. Dan sekarang sepertinya banyak pria yang mengejar image ”BBF Boy” ini (except me…wakakaka…)

Di majalah Esquire edisi September (I bought this magazine to keep me updated with the latest man-related info, not the fashion info actually…hahaha), ada dibahas mengenai apa itu definisi pria yang fashionable yaitu:
Berbusana gaya terbaru yang sedang populer di masa ini walaupun biasanya bukan barang baru karena pernah populer di masa lampau (Ow okay, gaya berbusana saya tidak banyak berubah sejak SMP dulu…Hm, jadi rasanya gak memenuhi kriteria pertama)
Fashion items-nya tidak hanya celana panjang, kemeja, jaket, celana pendek, T-shirt dan setelan jas, masih ada yang namanya vest, scarf, suspender, dan lain-lain. (Scarf? Suspender? Wakakaka)
Berani mengenakan apa yang dulunya hanya dikenakan wanita: warna cerah, motif floral, bordir, potongan asimetris (Warna cerah dihindari secara kulit saya item, motif floral? Bordir? Ini bukannya kebaya yak???)
Yak, bisa ditebak, berdasarkan definisi di atas, saya bukan orang yang fashionable..(kecewa bercampur lega…LOL..hahaha).

Well, sekalipun saya bukan seorang fashionista, tapi menurut saya, gaya busana yang asik itu yang:
Following the rules. Artinya apa yang kita pake itu bisa sesuai dengan situasi dan kondisi. Kalau kantor tempat kita kerja mengharuskan kita tampil profesional dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan, ya ikutin aja. Kalau diundang ke acara yang dress code-nya casual, ya jangan pake gaun pesta (buat yang cewe) atau batik (buat yang cowo)…hahaha…
Gak harus selalu ikutin mode. Obama pernah dikritik karena jeans biru lusuhnya yang dianggap sebagai ”mom jeans”. Terus apa kata Obama: ”Saya benci belanja. Jeans ini nyaman saya pakai. Kalau anda ingin presiden anda kelihatan keren dengan jeans ketat, maaf. Itu bukan saya. Tidak cocok dengan saya.” (Dikutip dari Esquire). Jadi, bisa kira-kira sendirilah mode mana yang cocok dan gak cocok buat kita.
Gak harus pake barang branded. Kadang orang lain sebenernya gak terlalu peduli dengan merek baju yang kita pakai. Sepanjang it looks good on us, sudah oke. Saya sendiri kalau beli baju yang bermerek bukan karena alasan ”gengsi” atau supaya terlihat lebih gaya. Tapi lebih karena barang bermerk bagus punya kualitas barang yang lebih bagus juga, nyaman, gak cepat rusak dan modelnya oke untuk dipakai dalam waktu lama.

Do not judge the book by its cover

Gandhi pernah “diledek” oleh Winston Churchill sebagai ”pengemis telanjang” karena gaya busananya yang sangat sederhana. Sehari-harinya, Gandhi biasa hanya mengenakan kain tradisional sebagai ”seragamnya”. Sangat-sangat sederhana. Walaupun begitu, kita tahu kalau Gandhi adalah tokoh yang besar. Bahkan bagi orang India, Gandhi diberi nama Mohandas yang artinya orang suci.

Kita sering mendengar ungkapan ”Don’t judge the book by its cover”. Jangan sampai kita terlalu cepat menilai orang lain hanya dari penampilan luarnya saja. Bukankah kita sering dengar berita kejahatan yang dilakukan oleh para ‘penjahat berdasi”. Dari luar tampaknya sopan dan bisa dipercaya, ternyata adalah seorang penipu. Atau orang yang belagak kaya, tapi sesungguhnya tidak punya apa-apa. Semua barang yang dipunya hanya pinjaman saja.

Suatu hari, ada sepasang suami istri yang memiliki anak yang menjadi mahasiswa Harvard hendak menemui rektor Harvard. Karena penampilan suami istri ini sangat-sangat sederhana, bahkan terkesan lusuh, rektor ini tidak mau menemui mereka. Bagi rektor itu, waktunya sangat berharga, tidak layak dihabiskan untuk menemui mereka. Rektor itu meminta sekretarisnya untuk memberi tahu suami istri ini kalau dia sangat sibuk dan tidak dapat menemui mereka. Namun demikian, suami istri ini tetap menunggu. Karena tidak pulang-pulang juga, akhirnya rektor ini bersedia menemui suami istri ini.

“Apa yang bisa saya bantu,” tanya si rektor. ”Kami memiliki anak yang bersekolah di Harvard ini…” kata sang suami. Sang rektor setengah tidak percaya mendengarkan perkataan bapak ini. Yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana mungkin orang miskin seperti kamu mampu menyekolahkan anak di Harvard.

“Dan anak kami sangat bangga bisa menjadi bagian universitas ini,” lanjut si ibu. “Lalu apa yang kalian inginkan?” si Rektor mulai tidak sabar. “Putera kami baru saja meninggal dunia dan kami ingin membuat sesuatu untuk mengenang anak kami di Harvard.”

“Hah, kalian pikir Harvard itu tempat apa? Kalau setiap orang yang meninggal dibuatkan tugu peringatannya, Harvard akan jadi seperti kuburan!”

”Kami tidak bermaksud untuk membuat tugu peringatan Pak. Kami ingin menyumbangkan uang untuk pembangunan gedung untuk mengenang anak kami”

”Gedung?! Apa kalian tidak tahu berapa juta dollar yang dibutuhkan untuk membangun gedung di Harvard. Kalian hanya melantur saja dari tadi. Maaf, saya saat ini sibuk sekali.”

Akhirnya suami istri itu pergi dari ruangan rektor itu. Beberapa tahun kemudian, berdirilah universitas baru di Amerika yang sampai sekarang masih termasuk dalam Ivy League. Universitas itu adalah Stanford University dan suami istri itu sesungguhnya adalah keluarga Stanford yang kaya raya.

Moral of the story: Do not judge the book by its cover!

So, kesimpulan dari tulisan ini: gak ada salahnya dengan kita “mendandani” diri kita dengan memakai busana yang bagus, cuman jangan hanya puas sampai situ saja. Selain apa yang tampak, kita juga harus ”mendandani” apa yang ada di dalam: karakter kita, pengetahuan kita, keterampilan kita. Bukankah apa yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan bernilai kekal?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar