ideals, achievement, dan self expression
June 12, 2008
Perhelatan Piala Eropa yang digelar di Austria dan Swiss baru saja dimulai. Selama satu bulan ke depan ini, para pencinta sepak bola sejagat akan disuguhi tayangan pertandingan berkualitas dari tim-tim sepakbola terbaik benua Eropa. Tim-tim ini akan saling berkompetisi untuk berebut menjadi yang terbaik.
Tidak hanya di Eropa, keriaan perhelatan akbar ini juga terasa sampai di Indonesia. Masyarakat sudah tidak sabar untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga. Salah satu bentuk antusiasme yang ditunjukkan masyarakat untuk mendukung tim kesayangannya adalah melalui berbagai atribut pendukung seperti kostum tim, topi, syal, dsb. Dapat dipastikan selama kurang lebih satu bulan ini, kita akan sering menjumpai di jalan para pecinta sepakbola yang mengenakan kostum tim besar Eropa seperti Perancis, Italia, dan tim kesayangan saya Belanda.
Melihat fenomena ini, saya jadi teringat dengan model VALS yang digunakan untuk mensegmentasikan customer berdasarkan hubungan antara kepribadian seseorang dengan perilakunya.Dalam model ini dijelaskan bahwa suatu tindakan seseorang dapat didorong oleh tiga buah motivasi utama yaitu ideals, achievement, dan self expression.
Konsumen yang termotivasi karena ideals dalam mengonsumsi produk atau jasa didorong oleh pengetahuan dan nilai-nilai yang dimilikinya. Contoh dari konsumen macam ini adalah para customer The Body Shop yang hanya ingin membeli produk yang ramah lingkungan.
Konsumen yang termotivasi karena achievement memilih produk dan jasa yang dapat mendemonstrasikan kesuksesan atau pencapaian yang mereka miliki. Contohnya adalah orang menjadikan mobil mewah seperti Lexus sebagai simbol kesuksesan mereka.
Konsumen yang termotivasi karena self expression menginginkan adanya suatu produk atau jasa yang dapat membantu mereka berekspresi. Contohnya ya para penggemar sepakbola tadi dengan kostum kebesarannya.
Model VALS banyak digunakan oleh para pemasar untuk melakukan segmentasi pasar secara psikografik. Segmentasi secara psikografik adalah segmentasi yang dilakukan dengan memperhatikan aspek psikologi dan demografi. Segmentasi psikografik dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap perilaku customer. Dengan pemahaman yang baik akan hal ini, seorang pemasar dapat merancang strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran.
Bono dan Ayat-Ayat Cinta
June 12, 2008
Bono mau mengubah dunia lewat musik! Bono tidak hanya kita kenal sebagai seorang musisi saja. Bono juga kita kenal aktif sebagai seorang aktivis kemanusiaan. Sudah banyak inisiatif proyek kemanusiaan yang dilakukannya untuk mengatasi masalah kemiskinan, kelaparan, perang dan HIV/AIDS.
Dalam melakukan kegiatan kemanusiannya, Bono tidak pernah membedakan suku, etnis, ataupun agama. Sikap toleransi Bono ini tidak terlepas dari budaya toleransi yang dibangun oleh kedua orang tuanya. Ayah Bono sendiri beragama Katolik Roma, sedangkan ibunya beragama Anglikan Irlandia. Sungguh perpaduan yang sangat unik mengingat di Irlandia pernah terjadi perang saudara antara Katolik dan Protestan !
Bono banyak menggunakan lagu-lagunya sebagai alat penyampai pesan kemanusiaan. Dalam tiap konser dan kemunculannya di media, Bono juga selalu menyerukan pesan kemanusiaannya. Cara Bono ini sangat efektif!
Dengan cara ini, Bono berhasil menginspirasi terciptanya conversation di antara penggemarnya. Para penggemar band U2 di seluruh dunia jadi ikut membicarakan dan menyebarkan pesan kemanusiaan yang disampaikan Bono. Banyak orang yang juga mulai tergerak untuk mendukung kampanye-kampanye Bono.
Saya melihat apa yang dilakukan Bono ini begitu luar biasa. Bono dapat memberikan pengaruhnya yang besar kepada orang banyak. Belum tentu ada politikus atau negarawan yang bisa memberikan pengaruh sedemikian besar seperti Bono.
Di Indonesia sendiri, saya melihat sosok Hanung Bramantyo, sutradara film Ayat-Ayat Cinta, sebagai contoh orang yang sukses menciptakan conversation di dalam masyarakat. Dalam MarkPlus Workshop bulan Mei kemarin, Hanung menjadi salah satu pembicara tamu. Pada kesempatan itu, Hanung berbagi cerita tentang kesuksesan film AAC.
Seperti halnya Bono, Hanung juga berasal dari keluarga dengan perpaduan budaya yang berbeda. Ayahnya adalah seorang Muslim, sedangkan ibunya adalah seorang keturunan Tionghoa. Melalui film AAC, Hanung menginspirasi para penonton filmnya untuk menciptakan conversation tentang isu poligami. Sejak kemunculan film AAC, mendadak masyarakat mulai membicarakan tentang isu ini lagi.
Saya pikir belum ada film Indonesia lain yang bisa memperoleh antusiasme yang begitu luas seperti AAC. Bahkan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta duta besar negara sahabat pun sampai datang ke bioskop untuk menonton film ini. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya !
Saya melihat Bono dan Hanung sebagai contoh pemimpin yang mampu menginspirasi orang banyak. Mereka berdua mampu mendorong terciptanya conversation di antara orang banyak terhadap suatu isu. Bono dengan isu kemanusiaannya dan Hanung dengan isu poligami dalam film AAC.
Dalam era new wave saat ini, seorang pemimpin tidak bisa lagi mengandalkan gaya kepemimpinan top-down saja. Teknologi sudah membuat banyak hal yang semula bersifat vertikal menjadi horisontal. Begitu juga dengan gaya kepemimpinan.
Para pemimpin harus mulai belajar untuk menginspirasi orang yang dipimpinnya. Dengan inspirasi ini, diharapkan akan mendorong tercipta conversation di antara orang yang dipimpin. Cara ini memang tidak mudah. Butuh waktu yang lebih lama untuk mendorong terjadinya conversation. Tidak semudah dan secepat bila menggunakan gaya kepemimpinan top-down. Namun, dampak yang dihasilkan dari gaya kepemimpinan horisontal ini sungguh besar ! Orang yang kita pimpin akan menjadi lebih loyal terhadap pemimpinnya. Mereka juga akan lebih berkomitmen untuk mengerjakan suatu hal tanpa ada rasa terpaksa.
Tuhan Yesus sendiri adalah contoh paling baik untuk seorang pemimpin yang dapat memberikan inspirasi. Melalui pengajaran-pengajaranNya, Tuhan Yesus berhasil mendorong terciptanya conversation di antara pengikutnya. Pesatnya perkembangan Injil adalah bukti keberhasilan kepemimpinan Tuhan Yesus. Injil yang bermula dari Yerusalem sekarang telah tersebar sampai ke seluruh dunia (Kisah Para Rasul 1:8). Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda menjadi pemimpin yang dapat mendorong terciptanya conversation di komunitas yang anda pimpin?
Obama, Internet dan Kepemimpinan yang Melayani
June 10, 2008
Barack Obama berhasil mencetak sejarah sebagai calon presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat dari partai Demokrat. Senator asal Illinois ini berhasil memenangi persaingan kompetisi calon presiden asal Partai Demokrat melawan Hillary Clinton.
Dalam salah satu wawancaranya, Obama mengakui peran internet sangatlah besar di dalam keberhasilan strategi kampanyenya. Dengan internet, Obama dapat menggalang dukungan dan dana yang besar dari para pendukungnya. Bahkan Obama pernah suatu kali dapat mengumpulkan dana kampanye hampir sebesar US$ 1 juta hanya dalam waktu 1 jam melalui internet.
Obama berhasil pula memanfaatkan internet untuk membangun hubungan dua arah dengan para pendukungnya. Melalui internet, para pendukung Obama dapat menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Obama. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap aspirasi rakyat tersebut, tim kampanye Obama berhasil dalam membuat pesan kampanye yang lebih baik dan tepat sasaran.
Dalam kampanyenya, saya melihat, Obama berhasil membangun positioning dirinya sebagai pemimpin yang sederhana dan dekat dengan rakyat. Keberhasilan Obama dalam menarik simpati rakyat Amerika tidak terlepas dari kemauan dan usahanya untuk selalu mendengarkan aspirasi masyarakat. Apa yang dilakukannya dengan membuat website untuk dapat berkomunikasi langsung dengan pendukungnya tersebut adalah salah satu contohnya.
Kemauan untuk mendengar Obama ini merupakan salah satu karakteristik dari gaya kepemimpinan melayani (servant leadership). Konsep kepemimpinan melayani sesungguhnya sudah sejak lama dikenal. Bahkan Tuhan Yesus sendiri telah mengajarkan dan mempraktekkannya. Tuhan Yesus pernah berkata bahwa apabila seseorang ingin menjadi seorang pemimpin, ia harus siap pula untuk menjadi seorang pelayan (Markus 10:42-45).
Apa sesungguhnya kepemimpinan yang melayani itu? Dalam buku klasiknya, Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness, Robert Greenleaf mengemukakan ada setidaknya sepuluh karakter yang menjadi ciri dalam servant leadership yaitu listening, empathy, healing, awareness, persuasion, conceptualization, foresight, stewardship, commitment to grow others, dan building the community.
Tidak seperti gaya kepemimpinan konvensional yang bersifat vertikal yaitu hubungan antara atasan dan bawahan dengan dibatasi hierarki organisasi yang kaku. Gaya kepemimpinan yang melayani sebaliknya mendorong terjadinya kolaborasi, empati, dan kepercayaan antara atasan dan bawahan.Dengan cara ini, organisasi ternyata dapat menjadi lebih berkembang dan mendorong terciptanya kinerja yang mengesankan.
Keberhasilan Obama ini merupakan contoh dimana pada dasarnya masyarakat semakin mendambakan sosok pemimpin yang tidak hanya berada di ”menara gading” saja. Masyarakat semakin mendambakan sosok pemimpin yang mau mengerti dan melayani kebutuhan mereka. Saat ini, pemimpin yang melayani tidak hanya dibutuhkan di gereja atau tempat ibadah saja, tapi juga di tempat kerja dan di masyarakat.
Obama juga telah memberikan contoh dimana perkembangan teknologi internet telah terbukti dapat membantu dirinya untuk berhubungan lebih dekat dengan para pendukungnya. Obama dapat mendengarkan dan menanggapi aspirasi para pendukungnya dengan keberadaan teknologi internet ini.
Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda menjalankan gaya kepemimpinan melayani? Sudahkah anda memanfaatkan teknologi internet untuk semakin mendekatkan diri anda dengan para stakeholders anda?